11 Maret 2008

Pas ke-4, Tak Mabok Lagi

10 Maret 2008 pas ulang tahun anakku, Aura Sealsea Rambu Bintani yang ke-4. Guna mengenang masa mendebarkan empat tahun silam, kami pun memutuskan untuk memperingatinya secara sederhana di dalam rumah yang berjarak hanya sepelemparan batu dari jalan raya by pass Tanjungpinang-Tanjunguban, persisnya di KM. 20 Gesek, Desa Tuapaya Selatan, Kecamatan Gunungkijang, Kabupaten Bintan.

Sealsea, demikian putri pertamaku itu akrab disapa, terlihat bahagia merayakan detik-detik kelahirannya sambil mengenakan stelan baju baru yang dibelikan sehari sebelumnya di Supermarket Pinang Lestari, KM. 9 Tanjungpinang. Kostum dengan desain ala rompi berbahan jins warna biru itu, memang pilihan Sealsea sendiri. Padahal, ibunya waktu itu belum menentukan model pakaian apa yang pantas untuk si Pinter yang doyan protes itu.

Nah, tiba waktu acaranya. Alhamdulillah berlangsung khidmat, dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Usai doa bersama yang dipandu oleh Mas Teguh, tetangga seberang jalan depan rumah, kemudian dilanjutkan prosesi tiup lilin. Sealsea yang diapit papa dan ibu, semangat memadamkan api lilin berbentuk angka empat itu diiringi tepuk tangan dan paduan lagu Selamat Ulang Tahun.
Potongan kue dibagikan, jamuan makan malam pun disajikan. Sebentar kemudian semua yang datang, keluarga, kerabat dan tetangga mulai menikmati santap malam. Ada ikan merah, ikan bawal, daging ayam, urab, sambal tempe campur bilis dan menu lezat lainnya. Sayang, buah semangka yang sedianya untuk cuci mulut selepas makan, eeh malah membusuk. Padahal, gelondongan buah mirip bola itu baru saja dibeli semalam. Yang membuat kurang nyaman lagi, beberapa gambar hasil jepretan kamera hape Nokia 6681 ini, kwalitasnya sangat rendah. Maklum, yang mengabadikan moment pun kurang PeDe kalee. Para tetangga, teman-teman sepermainan Sealsea yang tak sempat terlibat dalam seremoni kecil-kecilan itu, kami tetap kirimkan mereka paket nasi kotak dan aneka snack, gula-gula dan kue lainnya yang dibungkus plastik hias layaknya hantaran parcel lebaran.

Ada yang menggembirakan hati saya, tepat di hari ulang tahun Sealsea, calon adiknya pun genap menginjak bulan ke empat usianya di dalam kandungan istriku. Senangnya, sekarang ibunya Sealsea tak lagi sering mabok seperti bulan-bulan sebelumnya. Betapa kasihan waktu itu, saat ngidam ibarat dendam kesumat, penat dan penat selalu. Bayangkan, tercium aroma dapur saja sudah langsung teler dan muntah-muntah, juga kalau habis memandikan Sealsea lalu membedakinya. Wuus.. dia pun buru-buru ngeloyor ke kamar mandi, tak lama terdengar wuaaak.. wuaakk! Hhm kasihan, rupanya dia muntah sampai keluarlah kuning-kuningnya dari mulut.

Selamat ulang tahun putriku Sealsea, jadilah kamu yang terbaik. Khusus buat yang masih sembunyi dalam rahim istriku, berjuanglah kamu sekuat tenaga demi kehidupan di alam terbuka ini. Wahai jabang bayiku yang damai, semoga kamu menjadi insan yang sempurna walaupun kami akui penuh dengan keterbatasan dan kemampuan mengurusimu. Ya Allah yang maha membaca alam semesta serta tulisan ini, lindungilah kami... Amiin yaa robbal alamin.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

08 Maret 2008

yang Erotis yang Laris

ERA persaingan bisnis sekarang ini, membuat para pelaku usaha ada yang nekad banting stir. Mulai dari merintis usaha terang-terangan, kini beralih membuka "dagangan" remang remang. Lihat saja di balik gemerlap malam Batam, gadis-gadis belia belasan tahun dengan dandanan pakaian minim bermunculan di antara iringan dentuman musik enerjik, house music.

Polah dan tingkah mereka makin tak terkendali, sementara irama nada pun kian memekakkan telinga. Mereka menari erotik, berangkulan tanpa sungkan. Di atas pentas mini, berbagai model dan gaya berhubungan intim pun diperagakan layaknya pedagang di pasar menjajakan sayuran segar. "Zaman sudah edan, kalau nggak ngedan nggak keduman," celetuk seorang pria usai mengisap dalam-dalam sebatang kretek yang katanya rasa sabu-sabu itu.

Hanya celana dalam, baju you can see dan rok mini yang tersisa begitu intonasi terus berganti-ganti. Tak hanya lelaki yang bersorak-sorai kegirangan di tengah keremangan lampu diskotek, sejumlah cewek anak baru gede (ABG) juga ikut hanyut dalam tawa dan teriakan renyah. Suasana pecah, kemeriahan yang selalu dianggap murah oleh cluber's pendoyan hiburan malam.

Pamer aurat lalu berlanjut dengan aksi cewek-cewek panggung yang dengan keberaniannya mendatangi pengunjung, wow!. Tentu uang saweran yang menjadi sasaran, yah agar mendapatkan lembaran bernilai itu, mereka pun rela mengobral tubuhnya. Tak jarang, duit tips dimasukkan di balik celana dalam. Lantas, apa cukup sampai di situ? Oh tidak, kemolekan "kaum hawa" itu tak disia-siakan begitu saja.

Memang, tarian yang diperagakan oleh dara-dara berpakaian ala Tarzan seperti itu hampir setiap malam menjadi suguhan di sejumlah tempat hiburan malam di antero Kepulauan Riau. Tak hanya di Batam, pulau-pulau lain di sekitarnya juga dikabarkan menyediakan menu hot seperti itu. Sebut sajalah Negeri Berazam, Tanjung Balai Karimun. Juga Kota Gurindam, Tanjungpinang. Ah masak iya? Telusuri sajalah...

Sejumlah hotel yang di dalamnya terdapat kafe, pub maupun karaoke juga digosipkan memiliki stok gadis binal yang siap "dipakai". Biasanya, mereka distandbykan dalam satu ruangan kamar berkaca yang bisa diamati dari balik dinding cermin, orang Batam lebih mengenal dengan istilah Cewek Aquarium. Hmm, macam ikan Louhan saja yah?

Khusus tarian perangsang, sejenis striptease, disajikan ketika waktu bergeser dari malam ke pagi. Umumnya tengah malam tepat pukul 24.00 WIB menjadi magnet daya tarik luar biasa, apalagi di penghujung akhir pekan. Pengunjung membludak hingga begitu banyak yang tak kebagian tempat duduk, sebab, sajian dancer yang meliuk-liuk plus merangsang dipastikan memicu keramaian itu.

Pagelaran Dancing Show bisa tiga kali digebrak dalam sepekan, masing-masing diskotek saling bersaing ketat dalam menampilkan para penari erotis yang sok pasti bakal menggoyang habis!. Sekali tampil, kadangkala bisa lima grup dancer berbeda yang sengaja di datangkan dari luar kota. Kalau tamu members kurang puas, bisa ditambah servis pertunjukkan striptease. Sst.. yang ini baru digelar di VIP room boss!

Untuk memanggil kelompok penari telanjang di panggung terbuka, dengar-dengar cukup mudah dan murah. Juragan tempat hiburan cukup dihubungi oleh agen nakal atau germo yang menawarkan anak asuhnya untuk bermain di lokasi itu. Ada lusinan gadis yang berprofesi sebagai penari telanjang, busyeeet!. Ampun DJ. Hebohnya lagi, konon "ayam-ayam bersepatu" itu sebagian bisa gratis. Kok bisa?

Adakalanya pengelola jasa hiburan cukup menyediakan minuman dan sedikit uang transportasi pulang-pergi buat naik taksi saja. Pasalnya, inkam penari itu cuma tergantung pada besar kecilnya penghasilan dari saweran para tamu. Ada lagi yang lebih "gila" karena bisa bikin tamu tidak nombok banyak, ini kalau pas jumpa cewek yang doyan "geleng-geleng". Nah, tinggal cekokin saja pakai narkoba, urusan dijamin beres boss.

Beda dengan penari kelas executive, dia punya batasan peraturan. Tidak boleh seenak wudele dewek (semaunya sendiri), karena dia tidak diperkenankan mendatangi tamu buat minta saweran secara leluasa, mereka sudah dikontrak bayaran oleh pengelola hiburan. Dari bisik-bisik beberapa manajer, katanya daripada mengundang artis tenar mendingan menghadirkan penari sensual seperti itu. Magnetnya lebih terasa, haa ha ha...

Untungnya pameran swimsuit show (pertunjukan bikini) jarang diagendakan di Batam, kalau tidak bisa surut pengunjung pesisir laut. Soalnya, sudah bukan barang aneh, kalau perhelatan itu dipajangkan, bukan tidak mungkin atraksi diakhiri dengan telanjang tanpa sehelai benang. Sejarah telah menorehkan bukti, pada masa judi menjadi raja bisnis di Batam, peredaran cewek-cewek erotis bak permen, gampang dicari.

Tidak hanya diskotek saja, aneka usaha lain pun disulap menjadi sarang esek-esek, mulai dari panti pijat sampai kedai kopi. Bahkan, tubuh-tubuh seksi itu dilego jadi barang taruhan oleh segelintir penghobi balap liar yang kerap mewarnai beberapa ruas jalan umum di malam minggu. Yang erotis kini merambah masuk arena billiar serta mall. Tuh kan, Batam makmur tapi makin banjir pelacur. Eiit, jangan tegang..!

Cuci Mesin sampai Nguber Kancing...

PEKERJA Seks Komersial (PSK) yang kerap malang-melintang di negeri tetangga, seperti Singapura misalnya, kebanyakan memilih Kepulauan Riau khususnya Batam, Tanjungpinang dan Tanjung Balai Karimun sebagai tempat transit atau sekedar rekreasi. Sampai-sampai ada istilah "cuci mesin" dan "nguber kancing" bila mereka sudah balik ke Bumi Segantang Lada ini. Memang kedengarannya macam kendaraan masuk bengkel sehabis menempuh perjalanan jauh dan berliku.

Di kalangan para pramunikmat itu, sebulan sekali atau dua minggu sekali balik ke Batam atau wilayah terdekat lainnya merupakan tujuan sampingan, bisa sebagai refresing maupun penyegaran otak, mengurangi penat kerja sampai pada mencari kepuasan belaka. Pasalnya, ketika berada di seberang (Singapura, Malaysia atau negara tetangga lainnya) mereka cenderung menghabiskan waktu untuk meraup uang, uang dan uang sebanyak-banyaknya.

Tak heran, sangkin seringnya keluar-masuk antar negara, umumnya para PSK punya jurus jitu agar bisa selalu lolos sensor di setiap pintu kedatangan dan keberangkatan pelabuhan. Kalau perlu, tak jarang mereka tanpa canggung berusaha menggaet oknum petugas yang penting lancar perjalanannya. Ngomongin soal servis, cewek-cewek yang sudah "jadi" biasanya lebih tahu. Tak cuma duit pelicin saja, bahkan layanan plus-plus kadang ditawarkannya. Selain "titipan" (uang jatah) ada juga isu hot lainnya yang pernah mencuat, bahwa mereka juga bisa diajak karaoke dan cek-in hotel oleh si oknum, atau istilah ngetrennya "bisa dibawa".

"Ada yang jadi simpanan oknum aparat, tujuannya ya biar segala urusan pun menjadi mudah. Bikin paspor tak sulit, lolos Perdaduk sampai urusan runyam lainnya bisa jadi gampang," beber Garda (25, nama samaran), lelaki yang mengaku punya profesi ganda, jadi sopir taksi dan biro jasa tenaga kerja bayangan dan selalu mangkal di Pelabuhan Ferry International Batamcentre.

Sisi lainnya, sebagian PSK juga ada yang gemar mengoleksi "Bronces", sebutan buat para gigolo muda. Selera setiap PSK jelas beda, ada yang suka Bronces Kacangan, atau kelas teri yang tanpa modal apapun dengan penampilan alakadarnya. Ada juga Bronces Gaul yang tingkah polahnya senantiasa mengikuti tren mode, beranting-anting, tatoo sampai rambut dicat dengan potongan gaya baru. Nah, yang belakangan muncul, dunia Bronces mem-Bronces bahkan sudah menyelinap sampai pada kalangan remaja pria ABG dari warga keturunan dan oknum aparat, tentu mereka lebih suka memilih oknum yang baru menapaki menempati tugas kedinasannya di kota ini, artinya tenaganya dijamin masih fit dan fresh, juga kepolosannya tak diragukan.

"Asyik aja sih, kalau dengan mereka (oknum aparat muda) kan bisa leluasa bepergian. Masuk diskotek bisa gratis, keluar masuk pelabuhan aman, jalan-jalan pun tak takut penjahat," aku Siska (22), seorang PSK asal Jawa Barat yang telah setahun menempati rumah kos di sebuah ruko di bilangan Pelita. Komentar lain dilontarkan Tuti (18), wanita dengan paras ayu dan lesung pipi itu tak menampik hobi barunya "mempermainkan" para Bronces.

"Kalau aku sih Happy aja, bosen ama yang itu kan masih banyak cari lainnya. Siapa sih yang nolak kalau digratisin ama gue," celetuknya genit, saat ditemui di sebuah Pujasera kemarin malam. PSK itu tak kuatir Broncesnya terlalu bertingkah, sebab, dialah yang pegang kendali keuangannya. Maka tak heran, jika Broncesnya sok ngatur atau urakan susah dipegang janjinya, PSK itu bisa main "pecat" dan mudahnya berpaling ke Bronces yang lain.

Kenapa sebagian PSK menggandrungi kebiasaan memelihara Bronces? Beberapa teman malam pernah membeberkannya, katanya, hubungan Bronces dan PSK tak ubahnya Bengkel dan Kendaraan, suatu saat selalu membutuhkan. Lalu, kenapa mereka kemudian melengkapi pergaulannya dengan "kancing" (sebutan untuk Pil Narkoba)? Ada seorang PSK mengaku, tanpa pil perangsang, obat kuat atau serbuk yang bikin mereka "terbang" dengan kepala acapkali geleng-geleng, maka suasana happy masih terasa kurang nyaman.

"Enjoy aja boss, penting duitnya gampang. Biar saja dia cari tamu sebanyak-banyaknya, asalkan kebutuhanku mulus. Eeh, aku pun punya pacar sendiri juga lho, gini-gini kan pria punya selera juga, he..he," ujar Dicky (23, bukan nama sebenarnya), pria yang mengaku terjerumus jadi Bronces karena dua faktor, nafsu dan harta. Berbeda dengan Dicky, seorang sobat yang kini bekerja di sebuah kedai kopi di Nagoya, malah ngaku kapok. "Wah, kalau saya tak mau lagi lah. Cari penyakit saja, jelas-jelas mereka (PSK) itu semua bisa masuk. Hii ngeri dach, nanti kita pula yang ketularan virusnya," yakinnya mewanti-wanti supaya remaja lainnya jangan sampai terjerumus.

Kenapa disebut bengkel? Yah, karena bagi PSK para Broncesnya bisa dipakai buat mencuci mesin yang selama ia berada di negeri seberang kerap beroperasi siang maupun malam untuk memuaskan nafsu birahi tamunya. Alasan lain mengapa PSK justru berintim dengan Bronces, sebab jika sang pacar atau kekasih resmi, dinilai terlalu banyak tuntutan dan rawan dicemburui. Tak heran, para PSK selama di rantau mengumpulkan duit, di sini mereka malah membuang duit untuk berfoya-foya bersama Bronces gacoannya.

Jika di perantauan PSK lah yang mencuci mesin tamunya sampai ke kolong-kolongnya agar dapat tips atau fee mantap, sebaliknya di sini Broncesnya lah yang gantian mencuci kamar mesinnya, kalau perlu pakai "Hit" biar selalu tampak mengkilap. Nah, urusan "kancing" giliran si Bronces yang kadang kerepotan mencarikannya. Makanya, PSK lebih senang berhubungan dengan Bronces yang panjang langkahnya dan punya segudang relasi dalam dunia gemerlap (Dugem). Jadi, sewaktu sang PSK tersebut memerlukan dukungan "obat setan" itu, dengan mudah didapatkan. Dugem tak cuma dinikmati kaum normal, sebagian wanita pria (waria) atau lebih dikenal bencong pun tak mau melewatkannya.

Tengoklah di sepanjang jalan Batuampar depan PT. Persero, deretan bencong berpose menggoda selalu nampang hampir setiap malam. Di kawasan lainnya juga masih ada wajah-wajah berlapis bedak tebal itu, misalnya di depan ruko-ruko sebelum terowongan dari arah Seipanas, di Sagulung, dan beberapa tempat strategis lainnya. Bencong pun gemar ngeloyor ke diskotek, lekak-lekuk pinggulnya bisa membuat terkecoh pria mabuk.

Hura-hura pun berlanjut ke tempat-tempat hiburan malam lainnya, mulai dari karaoke, kafe-kafe, pub sampai ke diskotek lalu finish di penginapan maupun hotel berbintang.
Sebagian PSK lainnya, malah hobby shoping ke mall-mall. Menggandeng Bronces dianggap suatu kebanggaan tersendiri, apalagi Broncesnya ganteng, wah bisa rajin jalan melulu alias pamer men!

Bronces adakalanya punya beban tugas khusus, misal mengurusi kelancaran perjalanan si PSK, dari menyiapkan tiket dan mencarikan tamu tertentu selama di negeri sendiri. Dan Bronces umumnya tahu diri, ketika PSKnya sedag meladeni tamu, ia setia menunggu sambil menghabiskan waktu dan sebekal pesangon yang dikantongi dari PSK, setidaknya dugem sendiri dulu lah...(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

Garap Grup Band Polisi

USIA yang relatif muda tidak menjadikan Muhammad Agung Permana minder. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang tahun 2007 itu, optimis karena pada umurnya sekarang, 22 tahun, ia sudah menjadi pemimpin.

"Paling tidak bisa membuat ortu senang, menjadi Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (Ka.SPK) saya juga bangga dapat melayani masyarakat dengan segala problem pengaduan. Apalagi, bila perkara yang dihadapi bisa diatasi dengan baik," ulas Agung, sapaan kental bagi lajang kelahiran Rangkas Bitung 22 Juli 1986 yang doyan makan bakso itu.

Pria yang mengaku masih menjomblo alias belum punya doi ini, belakangan tengah sibuk menggarap sebuah grup band yang semua personilnya polisi. "Saya merekrut dari anggota Samapta Poltabes Barelang, grup bandnya belum ada nama, maklum baru dibentuk. Fasilitas sudah ada, tinggal latihannya saja," beber penghobi tenis meja dan tenis lapangan yang lagi menekuni latihan golf itu.

"Ide membuat band, memang dari basic saya suka musik, dari dulu sebelum masuk polisi. Saya ingin tunjukkan kepada masyarakat, bahwa polisi bisa berkreasi dan tidak keras seperti anggapan sebagian orang," lanjut Inspektur Polisi tingkat Dua (Ipda) Agung saat ditemui saya, Jumat (7/3) pukul 03.15 WIB dini hari.

Tak lupa, pemilik zodiak Cancer yang memfavoritkan warna hitam putih itu mengisahkan sepenggal perjalanannya. Dari Banten, Jawa Barat, Agung kemudian dibesarkan orangtua di Lampung. "Mulai sekolah SD, SMP sampai akhirnya tamat SMUN 9 Bandar Lampung, barulah saya mengikuti pendidikan taruna kepolisian," aku putra sulung pasangan Yahya Sukri SH dan J. Nurbaiti, keduanya PNS di DPU dan Polda Lampung.

Agung mempunyai seorang adik perempuan, Raisya Mirandia yang masih duduk di kelas 3 SMP. Diantara sebelas orang Alumni Akpol seangkatannya yang mendapat penempatan tugas pertama ke wilayah hukum Polda Kepri, Agung satu-satunya perwira pertama (Pama) Polri yang berdinas di Poltabes Barelang. Sisanya, tersebar memperkuat jajaran Polresta dan Polres-polres.

"Kesan pertama kali, saya melihat Batam ini panas dan gersang. Tapi, makanannya enak-enak, juga tempat hiburan rame. Secara polisi, saya justru merasa tertantang adrenalin untuk benar-benar mengabdi pada negara. Meski saya sebagai bagian terkecil, namun merasa tertantang dengan seabrek kasus. Insya Allah, dalam usia muda ini saya bisa mengemban tugas demi almamater," ungkapnya.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

01 Maret 2008

Jomblo yang Bercita-cita Pendeta

RAMAH dan murah senyum, pesona khas itu senantiasa memancar dari sosok kalem pemilik nama lengkap Parningotan Tampubolon. Sst.. lajang kelahiran Pematang Siantar 5 Oktober 1982 ini, sekarang lagi menjomblo lho. Ngakunya sih habis bubaran sama doinya.

Kendati begitu, pria berzodiak Libra yang doyan makan Mie Gomak ini masih menyimpan harapan, belum lama ini di suatu siang kepada saya ia membeberkan tipe cewek idamannya. "Saya suka cewek yang relatif cantik, baik, ramah, penyabar dan mau menerima saya apa adanya," aku Tampu, panggilan akrab pemakai celana size 28 itu.

Eiit, rupanya selain sering menyantap mie sebesar lidi itu, anak kelima dari tujuh bersaudara buah hati pasangan Mangatur Tampubolon dan Lukinar Manurung ini juga menyukai masakan pedas lainnya. Tahun 2001 silam, awal dia merantau ke Batam karena mengikuti orang tua.

Nah, tepatnya tanggal 13 September 2005 lalu, penghobi olah raga renang dan tenis meja ini bergabung menjadi Banmas (bantuan masyarakat). Pertama bertugas, Tampu mengabdi di Pos Polisi Lalu-lintas Simpang Baloicentre.

Seiring dengan pergeseran personil, cowok yang memfavoritkan lagu Aku Mau yang dipopulerkan oleh Once itu, akhirnya pindah dinas sebagai pegawai harian lepas (PHL) operator radio piket Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Poltabes Barelang.

"Suka dukanya ya ada, tapi lebih banyak sukanya. Bisa bantu polisi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat," ungkapnya. Tak ayal, lantaran dinilai rajin bekerja, suatu kali Tampu mendapat hadiah dari komandannya yang kebetulan mutasi ke jabatan baru, sagu hati itu berupa tas kulit yang modelnya sedang tren saat ini.

"Cita-cita dari dulu, saya ingin jadi seorang pendeta," ujar Tampu. Untuk itu, ia pun gemar membaca buku-buku rohani dan menempatkan Yusuf Roni sebagai tokoh pendeta kebanggaannya. "Ceramah dan kotbahnya mudah diterima," lanjutnya.

Bicara soal pergaulan, ternyata Tampu mengutamakan arti sebuah persahabatan. "Kami dari kampung bahkan punya kumpulan, namanya Badital. Itu diambil dari nama kami berenam, sampai kini meski berjauhan masih aktif telepon maupun SMSan," imbuhnya.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

16 Februari 2008

Mandi Samudera

IMPIAN Agus T Atmaja dulu, ingin memiloti pesawat terbang. Tapi, setelah usia beranjak dewasa dan sempat mengikuti kegiatan Bintal Juang Remaja Bahari di atas geladak Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Semangka, salah satu acara rutin tahunan gawean Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL), akhirnya lelaki kelahiran Pringsewu 16 Agustus 1978 ini 'banting stir' jatuh hati melamar menjadi prajurit matra laut. Seiring pergeseran masa, kini Agus telah menyandang pangkat Kelasi Kepala (KLK), bertambahlah tantangan serta tanggungjawabnya.

Menilik Tahun 1997 silam, tampaknya 'Dewi Fortuna" menyertai cita-cita pemilik zodiak Leo bershio Kuda itu. Putra pasangan Mardan dan Ernawati ini, sukses melenggang masuk Sekolah Calon Tamtama (Secata) Komando Pendidikan Angkatan Laut (Kodikal) Surabaya, usai lolos seleksi panitia daerah di Lanal Panjang, Lampung. "Lulus SMA, saya terus mendaftar Angkatan Laut," kenangnya kepada saya, sore kemarin. Tuntas digembleng di Kota Pahlawan, saat itu Kelasi Dua (KLD) Agus meninggalkan kampus yang kini bernama Kobangdikal itu. Awal bertugas, pria yang doyan ikan bakar itu di drop ke Pangkalan TNI-AL (Lanal) Tanjungpinang.

Mengabdi mulai dari memperkuat keamanan laut di Pos Unit Gerak Keamanan (UGK) Kijang (Bintan Timur), Kawal (Gunungkijang), Pulau Numbing, lanjut Provost Detasemen Markas (Denma) Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) VII yang sekarang berubah Lantamal IV di Kota Gurindam itu. Februari 2006, Agus hijrah dinas ke Batam dan sebulan kemudian menempati Pos TNI-AL Pelabuhan Magcobar, Batuampar, aktif sampai sekarang. "Saya terkesan waktu dilibatkan membimbing adik-adik dari sekolah perikanan dan kelautan. Mereka berkemah di pantai Kawal, dibentuk disiplinnya, baris-berbaris, tata cara penghormatan, halang rintang, jurit malam dan pelajaran lain," bebernya. Pada puncak latihan dasar pembinaan mental, Agus bareng instruktur lainnya lantas menceburkan para siswa serentak ke laut. "Namanya mandi samudera, prosesinya sama-sama basah kuyup bergandeng tangan bergerak dari laut. Guna menanamkan jiwa kebersamaan, senasib sepenanggungan, sekaligus syarat dapat brevet atau baret," terang pemakai celana size XL yang suka mengulum senyum itu.

Tak cuma pergaulan di luar, dalam menahkodai rumah tangganya pun Agus senantiasa menerapkan disiplin. Wajar kiranya bila suami dari Murtianingsih (25) sekaligus bapak tiga orang anak, Rizky Fadillah Vikram Atmaja (6), Rizka Haylan Firadillah Atmaja (4) dan Rezy Romulus Crisna Atmaja (1,5) itu, selalu tampil enerjik, tegas, lugas dan lentur bertutur sapa. Hmm, asyik ngobrol sejenak bareng Mas Agus di dalam pos kecilnya yang terbuat dari peti kemas kosong persis di sudut bibir dermaga yang super sibuk itu, membuat saya teringat dengan mars penyemangat semasa saya mengenyam pendidikan di Kota Bahari dulu, sepenggal syairnya begini;

Pasukan Marinir senjatanya model baru
Dengan semangat, suka minum susu
Dalam pertempuran tidak pernah masuk koran
Pantang mundur, mati sudah umur

Marinir.. Marinir.. hantu laut hantu laut
Lambangnya.. Keris Samudera
Bawalah bawalah ke medan perang
Sampai tua elek, Marinir jaya..!


Sebagai catatan, Mas Agus sendiri pernah bersama dengan saya menjadi instruktur di sekolah yang saya sebutkan di atas tadi. Saya masih ingat, tengah malam buta dia memuntahkan satu magazine peluru senjata AK-45 dar der dor! memecah keheningan malam membangunkan peserta latihan. Semua adik-adik itu terjaga kaget, kelimpungan mencari seragamnya. Pasalnya, mulai dari sepatu, kaos kaki sampai topi sudah ludes ditukar-tukar dengan peserta dari tenda lainnya. Lucunya lagi, ketika memasuki detik-detik mendebarkan jurit malam, pelatih ada yang sampai mengenakan kostum dan topeng hantu, mereka sebagian memanjat pohon dan siap menerkam langkah peserta yang berjalan kaki seorang diri melewati jalan setapak yang oleh warga setempat dikenal jalan tikus.

Dini hari itu, saya sembunyi dibalik rimbun semak belukar. Seorang peserta yang tadinya terkencing-kencing ketakutan akibat "dikerjai" setan-setan jadi-jadian, saya berikan "bonus" suruh tergeletak layaknya mayat. Tak sedikit teman-teman mereka menyangka sosok tubuh melintang di rerumputan itu disangka rekannya yang pingsan, ada yang teriak minta tolong, bahkan ada pula yang terkejut dan histeris. Dua orang malah tersesat jauh keluar dari rute yang sudah dipetakan, mungkin karena melamun saat diberi arahan sebelum dilepas. Memang cukup menguras tenaga, pikiran dan tentu keberanian. Pagi sampai siang di tengah terik mentari, mereka berjemur di antara deru debu pasir putih dan deburan ombak yang berkejaran dengan sepoi angin dan liuk daun pohon kelapa di sekitarnya. Lebih banyak yang serius menyimak dan mengikuti seabrek bimbingan dan latihan. Tak jarang dilakukan bila melepas penat dengan saling memijat, bernyanyi sorak sorai diiringi tepuk tangan rame-rame, dan sudah barang tentu ada segelintir yang dianggap "lucu" harus maju.

Klimaksnya, ketika mereka menjalani tradisi pengambilan baret. Mencebur ke laut secara masal, bergulingan di pasir pantai sambil merapatkan tangan. Sesekali merayap, merangkak dan ditutup dengan ikrar setia pada tumpah darah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah menjadi harga mati!. Tak perlu penasaran, kenapa tak saya sebutkan secara gamblang papan plang sekolah yang saya sentil tadi, tak perlulah saya sebut nama sekolah itu, toh kepala sekolahnya pun belum tentu mau merekomendasikan "mesin ATM"nya itu dipromosikan karena suatu alasan. Apalagi, beda pendapat tentang materi penerapan kedisiplinan taruna dengan warna semi militer, membuat saya dan orang nomor satu di sekolah itu pecah. Saya menyayangkan, kepala sekolah cenderung mementingkan urusan pribadi dan keluarga, lalu mengabaikan struktur organisasi yang sudah berjalan. Tapi sudahlah, itu sudah bagian dari perjalanan waktu, sejengkal kenangan saya merantau di negeri orang.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

13 Januari 2008

Hantu Bertato dan Waria Seksi

HUUWA ha haa... Hii hi hi hii, lentingan keras dan menyeramkan itu muncul dari corong sound system Jurassic Pub. Sesekali asap putih mengepul tiba-tiba dibalik keremangan lampu, sekejap pemandangan ruangan ala rimba belantara di lantai 2 Plaza Avava, Jodoh itu memicu berdiri bulu kuduk sebagian clubers wanita.


Sejumlah "hantu" disebar untuk memburu, menakuti dan bahkan ada yang gerakannya hendak merangkul, mencekik serta mencium beberapa cewek yang ketakutan sambil jongkok, sembunyi di kolong kursi maupun memeluk erat cowoknya. Hii... seraaam tapi mengasyikan.


Sst.. anda tak perlu khawatir, suasana horor seperti itu hanyalah variasi garapan Panitia Grand Opening Ministry Of Entertainment (MOE) yang pada malam akhir pekan kemarin menggelar tema Crazy Day. Pantas saja dalam setiap penggal penyampaian dua orang pembawa acara, Sule dan Mila, yang mengenakan kostum bulan hantu (hallowen) selalu melontarkan seruan "Crazy Day..." disambut pekik pengunjung dengan yel "MOE...!" Tenang, masih ada hantu bertato dan para waria paling seksi coy..! Emangnya Mahluk Tuhan Yang Paling Seksi cuma di lagu Mulan Jameela saja, gitu aja kok repot. "Emangnya gue pikirin," jawab Maia dan pasangan nyanyinya dalam album tergres itu. "Huss... Seksi emang endaaang bo," celoteh si bencong yang suka mangkal di depan PT. Persero Batuampar.

Disela acara, duet MC tak lupa "menculik" beberapa pengunjung untuk dibawa ke pentas. Lalu, yang laki-laki disuruh menirukan suara setan sejenis genderuwo, sedangkan yang perempuan meringkik seperti kuntilanak. Seorang wanita yang sedari tampil tampak kasak-kusuk tersipu malu, memanfaatkan kelengahan MC lalu buru-buru kabur dari pentas sebelum gilirannya "dikerjai" menirukan suara hantu.

Sebentar kemudian, pesta pun berubah. Tampilan para waria berbusana seksi yang tergabung dalam grup Trio Centil, mengguyur kemeriahan lewat goyangan joget hot dangdutnya. Sementara, seorang waria lainnya berpakaian serba putih mirip sang peri bertugas "menciduk" sebagian pengunjung untuk dihadirkan ke tengah pentas, dilanjutkan dengan menampilkan para jawara yang menjuarai lomba dalam aneka festival yang diselenggarakan MOE.

Entertain yang bermarkas di Mall Marina Apartement, Jodoh, dan baru berkembang selama tiga tahun lebih dibawah naungan Avava Group International itu, kini mengelola tiga tempat hiburan sekaligus, Jurassic Pub, Liverpool Billiar Centre dan Gostbuster Games Centre. "Rencananya, bulan depan MOE bangun lagi di Top100 Jodoh. Mudah-mudahan menjadi satu-satunya tempat hiburan terbesar di Batam, karena bakal dilengkapi ruang diskotek, games dan pub," ujar Reza, Ketua Panitia Grand Opening MOE.

Lomba Nyodok, Wiranto Juara III

TIGA belas grup dari puluhan band lokal yang ikut serta dalam festival itu, lantas "digodok" selama tiga kali audisi. Namun sampai final hanya menyisakan enam grup band meliputi, Coffe Break Band, Syro Band, Caramelo Band, Baby Band, Kocik Band dan Light Band. Siang mereka memamerkan aksinya di panggung pelataran Plaza Avava, malamnya tampil di Jurassic Pub.

Setelah menyimak kebolehan mereka, keputusan juri akhirnya menetapkan Light Band sebagai juara pertama, menyusul kemudian dua kumpulan anak muda, Syro Band dan Kocik Band. Kepada saya, management Jurassic Pub menjelaskan, bahwa pihaknya akan memberikan perhatian kepada grup band yang unggul untuk dikontrak selama tiga bulan tampil di tempatnya.

Selain ajang musik, turnamen di Liverpool Billiar Centre juga tak kalah seru. Muncul sebagai jago biliar, juara I diraih Alex, kedua Jojo dan juara III Wiranto. Suguhan meriah lainnya antara lain, pertunjukan Barongsai, Fashion Show, serta Home Band Jurassic Pub oleh Not Off Band. Perlu diketahui, semenjak berganti management hingga berkembang seperti sekarang, Jurassic Pub dulunya bernama Starlight.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

Kapolri Datang, Aspol Bersolek...

USAI salat subuh, Ahad (13/1), dari corong Masjid Jihadul Mucharom, Markas Kepolisian Kota Besar (Mapoltabes) Barelang, terdengar pemberitahuan yang ditujukan kepada seluruh penghuni asrama polisi (Aspol) Baloi, agar pagi itu serentak bergotong-royong membersihkan lingkungan sekitarnya.

Selang beberapa jam kemudian, lebih dua kali imbauan itu disuarakan. Sekitar pukul 07.00 WIB, sejumlah anggota Bintara Polri laki-laki dan wanita yang baru mengikuti masa magang, tampak bahu membahu bekerja membersihkan selokan, mengangkut sampah dan meratakan tanah di kiri kanan jalan menuju Mess Bhayangkara, tempat mereka beristirahat. Mereka diawasi langsung oleh seniornya.

Tak lama, satu per satu warga komplek pun mulai menggerakkan badan untuk mempercantik areal kediamannya masing-masing. Kegiatan itu terkait persiapan menjelang rencana kunjungan Kapolri Jenderal Sutanto di Batam, Kamis depan. Hal itu dibenarkan oleh Kapoltabes Barelang, Kombes Slamet Riyanto melalui Kabag Bina Mitra, Kompol Nunung Saefuddin menjawab pesan singkat yang saya kirimkan, pagi kemarin.

Aksi bersih-bersih juga pernah digelar di Aspol itu sebelum perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-62, Agustus lalu. Deretan perumahan diwarnai lebih jreng dan seragam, dipasang umbul-umbul serta pada gapura dihiasi aneka gambar maupun simbol perjuangan. Untuk memastikan suasana Aspol sudah kinclong, Senin (6/8) malam itu, kapoltabes yang rela merogoh kocek membantu pengadaan cat, bermobil mengelilingi pemukiman yang dihuni anak buahnya itu. Tak tanggung-tanggung, bagi yang kedapatan jorok diancam bakal ditancapi bendera hitam. Nah lo...

Seperti dikemukakan Kapolda Kepri, Brigjen Sutarman usai acara HUT Satpam ke-27 di Sport Hall Stadion Temenggung Abdul Jamal, Mukakuning, Senin (7/1) lalu. Kapolri bersama sederet jenderal berbintang diagendakan bakal menyerahkan empat kapal patroli cepat tipe C bantuan Amerika kepada Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepri. "Kita masih butuh banyak kapal tipe C, terutama tipe A. Polda sendiri idealnya mengendalikan limabelas kapal," ungkap Sutarman.

Lewat SMS, seorang perwira yang kini bertugas di Badan Pembinaan Keamanan (Babinkam) Polri, Ditpolairud Mabes Polri, kepada saya mengatakan. Nantinya bakal ada dua armada kapal patroli polisi menyusul didatangkan dari Jepang. Kapal modern itu didukung teknologi terbaru berukuran lebih besar dari kapal buatan Amerika yang dilengkapi sistem navigasi internet itu.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...