09 Desember 2007

Jangan Jadi Aji Mumpung...


SETELAH dua tahun kasak-kusuk, kini Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam telah terbentuk. Sabtu (8/12) malam, bertempat di ruang serba guna lantai 2 Hotel PIH, Batamkota, wadah para pekerja pers itu akhirnya resmi dideklarasikan.

Saya berkesempatan hadir mewakili undangan yang sebenarnya ditujukan kepada pimpinan redaksi POSMETRO, Hasan Aspahani. Acaranya berlangsung sederhana namun khidmat, dihadiri oleh insan media cetak dan elektronik, serta sejumlah pelajar yang tengah mengikuti workshop jurnalisme TV sekolah.

Dalam sambutan mewakili walikota, Kepala Badan Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Pemko Batam, Norman, mengatakan. AJI diharapkan bisa tumbuh berkembang sesuai dengan visi dan misi organisasi, juga bisa lebih meningkatkan profesionalisme wartawan. "Waktu kecil saya banyak Aji, Aji-Aji mumpung..., Mudah-mudahan yang ini, jangan jadi Aji mumpung," celetuk pria yang mengaku merasa asing dengan dunia pers sekaligus grogi saat tampil diiringi tepuk tangan hadirin. Norman mengingatkan, dalam rutinitas tugas tidak boleh bergaya atau bersikap sombong.

Sementara itu, Mujib Rahman, Ketua Bagian Advokasi AJi pusat, menegaskan. Komitmen semenjak AJI berdiri dan dideklarasikan pertama kali di Sirnagalih, Bogor, pada 7 Agustus 1994 silam sudah jelas, yakni menentang pengekangan pers dan menuntut hak publik atas informasi. "Oleh karena itu, AJI tidak terima intervensi, tidak terima amplop," ujar pria yang aktif berkecimpung di majalah terbitan Jakarta, Gatra. Malam itu, Mujib kemudian memimpin membacakan pendeklarasian AJI Batam.

Usai peresmian, Rumbadi Dale dari Majalah/Koran Tempo perwakilan Batam yang merupakan salah satu aktivis AJI, kontan mengajak rekan-rekannya menyatukan tangan dan mengangkatnya untuk berfoto bersama. Kabag Humas Pemko Batam, Yusfa Hendri M.Si yang hadir mengenakan kaos dan celana jins biru, bersama dua orang anak laki-laki dan staf, akhirnya meninggalkan lokasi acara disusul beberapa undangan lainnya. Sedangkan pengurus AJI, melanjutkan diskusi membahas masa depan organisasinya di wilayah Batam dan sekitar.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

08 Desember 2007

Tali Kasih dari Asrama Polisi

"Oom.. om, selamat datang. Dari kepolisian yah?" celetuk seorang anak laki-laki dengan polos, menyambut rombongan Umat Nasrani (Kristen) dari Asrama Poltabes Barelang, Sabtu (8/12) sore di Panti Asuhan Rumah Cinta, Komplek Nusa Jaya II, Seipanas. Bocah yang mengenakan kaos singlet putih dan berdiri tenang menyandar pada dinding pojok teras rumah dua lantai itu, lekas menyodorkan telapak tangan kanan dan mengajak bersalaman. Sebentar kemudian, wajahnya perlahan tampak riang.

Ketika sebagian anggota polisi dan Bhayangkari keluar dari dalam minibus, Bripka Victor Hutahaen dibantu anggotanya tak mau membuang waktu lama. Komandan Regu Penugasan Khusus (Gassus) Satuan Lalu-lintas Poltabes Barelang itu langsung mengeluarkan paket bantuan dari dalam mobil box yang dibawanya. Secara estafet kotak demi kotak paket bantuan tersebut dibongkar untuk diserahkan ke pengurus panti sosial itu.

Sebelum penyerahan bantuan secara simbolis, Iptu A Bayu Suseno didaulat menyampaikan sambutan mewakili Kapoltabes Barelang, Kombes Pol Slamet Riyanto SH. Sebagai balasannya, Didik Eko HS, selaku pengurus panti mengutarakan rasa terima kasih. "Kami bersyukur kepada Tuhan, juga kepada Poltabes Barelang yang membantu meringankan beban mereka. Harapan kami, generasi kita perlu perhatian, khususnya anak-anak terbelakang. Marilah kita entaskan masa depan mereka, jangan sampai buta huruf," ulasnya.

Kepada saya, Didik mengaku sudah tiga tahun mengurus rumah sosial yang kini memiliki 17 orang anak asuh berasal dari Pancur, Tiban, Batuaji dan Kabil itu. "Kami ingin melayani pekerjaan Tuhan, kami juga merindukan perhatian bersama untuk anak-anak kita. Tuhan memberkati," papar pria berkacamata putih itu seraya menutup kalimat dengan memimpin doa. Usai ramah tamah penuh nuansa kekeluargaan itu, rombongan dilepas dengan saling berjabattangan diiringi nyanyian anak-anak panti asuhan.

Meski diwarnai guyuran hujan, hari itu rombongan telah menyalurkan bantuan ke Panti Asuhan Yayasan Baptis di Batuaji, serta Betesda di Batamkota. "Ini sebagai bentuk tali kasih dari kami, penghuni asrama Poltabes Barelang di Baloi yang Nasrani. Tidak pandang dari gereja mana saja, karena semata-mata ketulusan untuk berbagi bersama dalam rangka menyambut Natal," kata Victor. Polisi berperawakan segar itu membeberkan jenis bantuannya antara lain berupa, uang, beras, gula, susu, teh, telor, mie instan, minuman kaleng, minyak goreng, alat tulis, sabun mandi dan sabun cuci.

Memang, semarak menjelang Natal sudah terlihat di sana-sini. Dunia seakan menyambut gembira, penuh nuansa dan pernik Santa, lampu, kembang api dan terompet. Bahkan, sebagian pengikut Yesus berdandan kostum merah sambil menyanyikan lagu Natal. Di Singapura, puncak peringatan Natal justru telah diselenggarakan, Sabtu (17/11) lalu di Orchard Road. Ribuan lampu aneka warna dan rupa, saat itu menghiasi jalan hingga terang benderang. Lampu-lampu dipasang di pohon-pohon, dinding bangunan, atau dibentuk seperti gerbang selamat datang di sepanjang kota. Perayaan Christmas Light-up Ceremony 2007 yang ke 24 di negara berpenduduk sekitar 4,3 juta jiwa itu, mengundang wartawan dari 12 media se-Asia.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

05 Desember 2007

Manuver Bak Pesawat Tempur

"..MONITOR seluruh kapal, latihan hari ini kembali dimulai, periksa kelengkapan dan perhatikan keselamatan. Apa dikopi, over.." ucap Iptu Iwan Sebastian, perwira pelatih Satuan Kapal Khusus, Special Boat Unit (SBU) melalui radio komunikasi di bilik kemudi Kapal 020. Seruan via frekuensi udara itu, lekas disambut tiga pelatih lainnya, Ipda Rori Ratno, Bripka Sugiman dan Bripda Dicky Syahriadi yang standby dalam kabin Kapal 017, 016 dan 015. "..86, dikopi dimonitor, roger.." sahut mereka bergantian.

Cuaca siang bolong itu masih terik, panasnya seakan menelusup hingga menusuk sampai ke tulang. Senin pertama Desember ini, sementara jarum jam saat itu baru saja lengser usai bertengger pada pukul 13.30 WIB, saya berkesempatan mengikuti latihan di perairan Batuampar. Menurut jadwal, ujicoba sekaligus pemantapan pengoperasian empat unit kapal baru bantuan dari International Criminal Investigative Training Assistance Program’s (ICITAP) atau Program Bantuan Pelatihan Investigasi Kriminal Internasional itu, digelar selama tiga minggu.

Meski dua pelatih senior asal Amerika Serikat, Mr. Skeeter dan Mr. Raymon Wilian, sore itu berhalangan ikut melaut. Namun, tak menyurutkan tekad para awak kapal berseragam welpak serba biru untuk berlatih dan terus berlatih. Bintara anggota Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepri yang dilengkapi atribut SBU pada topi, rompi pelampung dan baju, sigap menarik tali dari tambatannya di dermaga Harbour Bay. "..020, 017 izin mendahului, 86.." suara itu terdengar dari corong radio Kapal 020, demikian dan seterusnya disampaikan dua kapal lainnya yang olah gerak ke laut. Lambung kapal-kapal itu dilapisi bahan anti peluru revolver kaliber 16.

Tak lupa, Brigadir Sugiarto meminjamkan rompi pelampung kepada saya. Seorang ABK lalu membantu mengenakannya, klik.. pengunci plastik pun mengapit pada lingkar pinggang. Armada empat kapal patroli reaksi cepat itu melaju ke tengah laut, bising dua mesin Mercury 250 PK berkemampuan jelajah 40 Knot perjam menengelamkan riuh deburan air yang bertubu-tubi dilabrak lunas haluan kapal ramping yang dilengkapi sirip pemecah ombak itu. "..Perhatian semua kapal, 020 akan melakukan manuver, rogerrr.." vokal Iwan kembali menyiar lewat radio kapal. "..Karena ada wartawan ikut di kapal.." celetuknya sembari mengambil alih posisi kemudi.

"Berpegangan kuat," pesan Iwan pada kru kapalnya. Dalam hitungan detik, jebolan Taruna Nautika Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) Semarang, angkatan 2003 itu langsung memutar stir kapal dan wuuus!, kapal berputar-putar membentuk leter angka 8. Goyangannya yang miring tajam, menambah gelombang kuat menghantam buritan. "Banting stir mobil lebih gampang, kalau banting stir kapal harus segera pikirkan cepat balas membalik," jelasnya mengingatkan. "020, 017 transfer satu personil, sandar lambung kiri, overr.." lagi, suara operator 017 memanggil 020. Dua kapal itu tiba-tiba memindahkan anggota di laut.

Melintas diantara puluhan kapal-kapal kargo yang lego jangkar, sesekali juga mengelak saat berpapasan dengan ferry penumpang dari Singapura yang acapkali berseliweran, menjadi pemandangan yang asyik. Setengah permainan, awak keempat kapal itu lalu istirahat dengan menyandarkan kapal ke Kapal Polisi (KP) Sri Gunting yang beberapa hari telah merapat di pelabuhan Macobar, Batuampar. Suguhan satu kes air kaleng pun menyambut, sebentar kemudian mereka larut dalam canda dan obrolan sebelum meneruskan latihan Navigasi Internet (Navnet).

Pukul 16.30 WIB, armada kapal patroli itu balik kanan ke Harbour Bay. Dalam perjalanan pulang, dua kapal melakukan manuver layaknya latihan penyergapan maupun mengelak dari serangan. Berputar, saling berpapasan dan melingkar dengan cepat. Usai "main air" giliran Brigadir Haryono, Komandan Satuan Kapal Khusus itu, mengarahkan anggotanya untuk mencuci deck, ini rutin dilakukan selepas latihan sebagai bagian dari perawatan kapal.
Nah, seperti biasanya setiap mengawali dan mengakhiri kegiatan, pengarahan serta evaluasi selalu disampaikan perwira latihan. Sekedar diketahui, empat orang pelatih dari Mabes Polri itu, masing-masing memiliki kemampuan lebih. Bripka Sugiman misalnya, ia dikenal jago menyelam karena sering gabung latihan bareng Possi (Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia) dan meraih bed Open Water Instructor dari Scuba School International. Bakat serupa juga dipunyai Bripda Dicky Syahriadi, apalagi keduanya sama-sama masuk polisi dari nol alias Tamtama, di masanya. Selesai rangkaian latihan, nantinya personil Ditpolairud Polda Kepri lah yang bakal memandu kapal modern itu dengan etos kerja sesuai motto Polairud, Arnavat Darpa Mahe, karena di laut kita bangga.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

Ikuti Jejak Sang Bapak

CITA-CITAnya ingin jadi dokter malah kandas. Setelah melewati usia muda, Inspektur Polisi tingkat Satu (Iptu) Iwan Sebastian cenderung diprogram oleh orangtuanya untuk mengikuti jejak sang bapak yang mantan kapten kapal tanker Pertamina itu.

Pria kelahiran Semarang 21 Agustus 1980 yang memfavoritkan warna biru dan putih itu, lalu lebih mendalami jiwa pelaut dengan menamatkan kuliah di Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) di Kota Atlas itu, tahun 2003 silam. Setahun kemudian, lelaki berzodiak Leo dengan postur ideal itu sukses merampungkan pendidikan Sekolah Perwira (Sepa) Polri dan bergabung dalam jajaran Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Mabes Polri. Selepas itu, selama kurang lebih sebelas bulan, ia pun ditugaskan memperkuat personil kapal polisi yang berpatroli di wilayah Papua, Ambon dan Sulawesi Utara. Sederet gemblengan latihan dari instruktur Amerika Serikat, telah menambah pengalamannya. Sebut saja mulai dari Basic Criminal Investigation di Jakarta, Baker Iron di AS, sampai Jitf-West yang merupakan bagian dari Angkatan Laut AS bergerak di bidang pasukan khusus.

Iwan yang dibesarkan di Kota Lumpia itu, bareng beberapa rekan se-korpsnya kini membawa misi menularkan ilmu yang antara lain pernah ditimbanya dari pelatihan selama tiga pekan di pabrikan Save Boat di Bitung. "Saya bangga menjadi bagian Polri yang bergabung dengan USA. Melatih mulai dari Bitung, Babel, Kepri dan selanjutnya ke Tarakan dan Nunukan. Di situlah saya merasakan, betapa kaya wilayah Indonesia," tuturnya kepada saya di sela melatih awak Satuan Kapal Khusus, Special Boat Unit (SBU) Ditpolairud Polda Kepri, di perairan Batuampar, belum lama ini.

Kenangan pahit pernah dialaminya, ketika ketegangan menyapa perairan laut Yos Sudarso dan Arafuru. Tiga hari tiga malam, Iwan yang sedang melaksanakan tugas patroli diterpa gulungan ombak besar, di ombang-ambing gelombang dengan bekal perut seadanya. "Tiga hari makan roti dan mie bungkus mentah, tapi itu menyenangkan," kata putra ke 3 dari 4 bersaudara buah hati pasangan Imam Sukarlan dan Hj. Ratnasari Siregar itu.

Baru empat bulan, Iwan mempersunting Puspita Hastuti, wanita manis Sarjana Psikologi. Namun, karena panggilan dinaslah memaksanya rela meninggalkan si jantung hati yang pernah dipacari usai perkenalan pertama di Kemayoran itu. "Pertama kenalan ya pas pulang kerja, saya masih pakaian dinas waktu itu. Memang, perasaan kangen kadang ada. Tapi malah menjadi tantangan berarti untuk memberi pengertian kepada istri, tak cuma pada siswa saja. Bisa kita telaah, dalam darma bakti kita selalu ditunggu oleh masyarakat," ulas Iwan.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

Si Gesit Punya Polairud

EMPAT unit kapal patroli reaksi cepat bolak-balik di perairan depan Pelabuhan Harbour Bay, Batuampar. Raung sirinenya seolah berpacu dengan deburan ombak dan deru bising mesin sejumlah kapal penumpang yang hilir mudik di antara kapal-kapal barang yang lego jangkar. Sabtu (1/12), bertepatan dengan ulang tahun Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) ke-57, beberapa anggota polisi masih sibuk latihan di laut.

Awak kapal Polairud Polda Kepri berseragam jenis welpak biru-biru, tampak serius mengikuti bimbingan 6 orang pelatihnya. Tenaga ahli yang mengajari mereka itu antara lain 2 orang WN Amerika dari perwakilan ICITAP di Indonesia, Mr. Skeeter dan Mr. Raymon Wilian, serta 4 orang utusan Mabes Polri, Iptu Iwan Sebastian, Ipda Rori Ratno, Bripka Sugiman dan Bripda Dicky Syahriadi yang sebelumnya pernah mengikuti pelatihan di Amerika Serikat.

Menurut Iwan, selaku ketua tim pelatih, kapal tersebut memiliki jarak tempuh 20 mil dengan kecepatan 40 knot perjam. "Waktu perang di Irak, kapal inilah primadonanya. Bisa dikandaskan untuk menurunkan pasukan, kapal ini terkenalnya saat gejolak di Irak itu," ujarnya saat ditemui saya di sela latihan. "Kapal ini dilengkapi Navigasi Internet, sehingga bila berpapasan dengan kapal lain bisa diketahui berapa kecepatan dan jarak lawan," imbuh Iwan.

Secara terpisah juniornya, Rori menambahkan, 4 unit kapal patroli buatan Seatel USA itu merupakan bagian dari 15 unit kapal serupa yang dikirim ke Indonesia. "Jumlah itu sudah dibagi untuk di tempatkan di wilayah Sulawesi Utara, Bangka, Kalimantan Timur dan Kepri sendiri," ulasnya seraya menerangkan bahwa keempat kapal itu kini bersandar di Pelabuhan Harbour Bay, Batuampar guna menjalani rangkaian latihan.

Berat keseluruhan kapal mencapai kurang lebih 7 ton ditunjang kemampuan dua unit mesin tempel merek Mercury 250 PK, kapasitasnya bisa memuat 4 orang atau maksimal 18 orang, terdapat dudukan persenjataan di ujung haluan dan buritan, serta pada bagian lambung dilapisi bahan anti peluru revolver 16 dan pemecah ombak. "Ini memang didesain supaya kalau mau terbalik bisa dengan cepat kembali ke posisi semula, ya goyang-goyang gini," tutup mereka.

Kapolda Potong Tumpeng

BRIPDA Febriyan Ralita, anggota Polairud Polda Kepri kelahiran Dumai 2 Februari 1988, diberi kesempatan pertama menerima potongan nasi tumpeng dari Brigjen Pol Drs Sutarman, Kapolda Kepri. Prosesi itu terlihat saat acara seremoni bersempena HUT Polairud ke-57 bertempat di ruang serbaguna lantai 3 Hotel Planet Holiday, Jodoh.



Sebelumnya, kapolda usai memberikan sambutannya juga menerima penyerahan kunci kapal secara simbolis dari Mr. Skeeter, perwakilan ICITAP di Indonesia. Dalam waktu sama, Sutarman membalas memberikan plakat kenang-kenangan terbungkus kotak warna merah.

Segenap keluarga besar Polairud yang dikenal dengan motto Arnavat Darpa Mahe (karena di laut kita bangga), kemarin merayakan hari jadi kesatuannya. Kali ini mengusung tema, kepolisian perairan dan udara bersama masyarakat siap meningkatkan kamtibmas dan penegakkan hukum di wilayah perairan dan penerbangan.(uka suara dinata)

Dirgahayu Polairud, semoga selalu jaya...!

Baca Selengkapnya...

03 Desember 2007

Hii.. Seraaam!

FENOMENA kesurupan massal kembali terjadi, Ahad (2/12) malam. Sedikitnya sembilan orang siswi SMKN 1 Batam yang menghuni dua pondok asrama di pojok belakang komplek sekolah itu, tiba-tiba kerasukan roh wanita. "Waduuh, sakit... sakit!" pekik para korban yang sudah dirasupi arwah gentayangan saat tubuh korban dipegangi kuat-kuat oleh temannya dibantu warga setempat. Suasananya semakin mencekam, hiii.. seram!

Sore itu, di sepetak lapangan sepak bola dalam areal sekolah, baru saja digelar acara penutupan perkemahan Pramuka SD maupun SMP se-Kota Batam yang telah berlangsung selama dua hari, 1-2 Desember. Kegiatan itu, bersempena HUT Gudep ke-VII0251-0252. Bahkan, spanduk selamat datang bagi peserta di bumi perkemahan (buper) SMKN 1 Batam, Jalan Prof Dr. Hamka itu masih terpampang di pagar besi tepi jalan.

"Mulai lepas magrib tadi sudah tiga orang yang saya tangani. Sebenarnya bukan karena apa-apa barang (hantu) itu main, dia (para siswi) ini lagi kosong pikiran dan perut, maka barang itu masuk," terang Farida, seorang ibu berjilbab hitam yang berdomisili di Perumahan Genta I Batuaji. "Tapi kalau sudah kita antar pulang, barang itu tak masuk lagi. Cuma harus diantar rame-rame sambil ngaji, baca surat Al Fatihah," imbuhnya.

Salbiah, siswi yang kesurupan, mengaku lega begitu tersadar. "Sebelumnya, saya menenangkan teman, si Bina yang kesurupan," tutur pelajar kelas II jurusan kelistrikan itu. Padahal, ketika remaja putri yang mengenakan kaos kuning itu dicengkeram pengaruh roh halus, tubuhnya kerap berontak dan terus berteriak. Ia dinyatakan pulih setelah Farida ngetes dengan beberapa pertanyaan dan menyuruhnya melafalkan kalimat syahadat.

Usai penanganan Salbiah, menyusul tiga orang siswi lainnya mendadak menjerit-jerit di dalam kamar tidur asrama. Beruntung, mereka pun akhirnya bisa diatasi. Hingga tengah malam, situasi komplek asrama masih menegangkan, seluruh penghuni asrama yang khawatir diusili hantu itu tampak berjaga-jaga dan membentuk kumpulan masing-masing. "Nggak boleh sendiri atau melamun," kata seorang siswa laki-laki.

Sejumlah siswa yang saya tanyai, menceritakan. Kesurupan pertama menimpa Devi, siswi kelas I. "Devi kesurupan saat perjalanan dari Perumahan Putri Tujuh. Sewaktu di jalan saja tingkahnya sudah aneh, sampai di warnet yang ada wartelnya di ruko depan sekolah itu, dia nangis-nangis," ulas para pelajar laki-laki. Devi setelah lepas dari belenggu hantu kemudian dijemput orangtuanya dan dibawa pulang ke rumahnya di Kampung Cate, Kecamatan Galang.

Data yang berhasil saya himpun hingga tengah malam itu, sedikitnya sembilan orang siswi yang sempat dirasuki roh wanita usil antara lain, Devi, Titin, Neli, Wati, Nurhayati, Fitri, Salbiah, Bina dan Mira. Mereka merupakan para siswi yang masih mengenyam pendidikan dari berbagai bidang jurusan, serta dari tingkatan kelas berbeda. Peristiwa kesurupan rame-rame itu, cukup menyedot perhatian warga sekitar. Sebagian pelajar seketika berwudlu lalu mengaji, sebab dengan itu diyakini hantunya segera pergi.

Lapangan dan Hutan Kecil yang Angker

KESURUPAN massal di asrama SMKN 1 Batam pertama kalinya dalam dekade empat tahunan, selama ini kalau pun terjadi biasanya perorangan saja dan berlangsung sebentar. Demikian dibeberkan Dodi (25), selaku ketua pelaksana harian yang mengurusi dua bangunan asrama di sudut belakang komplek sekolah itu.

"Sering sih tidak, cuma hari biasanya paling ada yang pingsan dulu, satu orang dan bisa kita atasi. Nah, kali ini kok rame yang kena, makanya kami langsung panggil guru-guru, kepala sekolah dan warga Perumahan Putri Tujuh di depan itu. Mereka datang rame kemari," ujarnya.

Menurut pria berperawakan sedang yang tengah malam itu mengenakan stelan kaos merah berlogo Pemprov Kepri di dada kanannya itu, total keseluruhan pelajar yang menghuni asrama jumlahnya mencapai 67 orang. "Perempuan ada lebih dari duapuluhan, sisanya laki-laki. Mereka kebanyakan anak-anak hinterland, sebagian dari pulau-pulau," jelas Dodi disela kesibukannya menangani siswi-siswi yang kesurupan bergiliran.

Arwah gentayangan yang usil menganggu ketenangan sejumlah siswi, sedari pukul 18.30 sampai pukul 23.30 WIB malam itu, dalam dugaan Dodi merupakan jebolan setan-setan yang berdiam di hutan kecil dan sepetak lapangan bola di atas bukit yang telah dipangkas rata dekat Guest House SMKN 1 Batam. "Bisa jadi di lapangan bola, sebab biasanya kesurupan mulai dari sana (sambil menunjuk). Atau bisa juga dari hutan kecil itu (seraya menoleh ke rimbun pepohonan), di situ ada pohon besarnya," tutupnya.

Saya berkesempatan mengamati suasana lapangan yang remang tanpa lampu penerangan, di dua ujung hamparan tanah itu, dua buah tiang gawang besi bercat putih tampak tegak tak ada jaring-jaringnya. Sepetak lapangan itu dikelilingi bangunan aula, asrama, serta deretan lokal kelas dan kantor. Pada sisi gelap lainnya, berjajar perkampungan warga. Semak belukar ditumbuhi pepohonan, diapit asrama dan bangunan milik sekolah.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

25 November 2007

Hati-hati Jemur Celana Dalam

ADA tiga sebab, kenapa malaikat tidak mau masuk ke rumah kita (manusia, red). Kata Aa Chan, "Ada anjingnya, ada foto atau patung mahluk hidupnya, dan ada jemuran pakaian dalam sembarangan. Makanya, hati-hati yah jemur celana dalamnya..? Ok, kembali ke Allah...!"

Suasana Balai Pertemuan Bengkong Baru di lingkungan RW.IV Kelurahan Bengkong Indah, Kecamatan Bengkong, Sabtu (24/11) malam, tampak beda dari biasanya. Warga tua muda berbondong-bondong memadati sepetak lapangan berlantai semen di tengah pemukiman, mereka memenuhi undangan Panitia Malam Silaturahmi Keluarga Besar Bengkong Indah.

Warga enggan menyia-nyiakan acara sederhana namun apik yang pertama kalinya diselenggarakan di wilayah kelurahan pimpinan Syahrizal HS itu, apalagi ada doorprize, kompangan serta ceramah ala Ustadz Chandra atau dikenal Aa Chan. "Saya bangga dan haru, dalam waktu setengah jam bisa kumpul seperti ini," ungkap H. Deska Amilin, ketua panitia yang juga menjabat selaku ketua RT setempat.

Deska yang malam itu mengenakan stelan kemeja batik lengan panjang, berkopiah hitam dan berkalungkan bed kepanitiaan, dengan perasaan mendalam mengatakan. "Tiga bulan lagi kami RT/RW mungkin masa baktinya telah habis, malam ini terasa lengkap dengan kita bikin malam silaturahmi. Kalau ada yang kurang, jangan tanya Pak Lurah, tanyakan saja kepada Deska Amilin," ujarnya disambut aplaus hadirin.

Lalu, bak terhipnotis oleh suguhan tausiyah Aa Chan, puluhan warga yang duduk pada deretan kursi maupun mereka yang berdiri hingga ke tepi lapangan, terlihat konsentrasi menyimak petuah ustadz gaul itu. "Bapak ibu yang masih ngaku Tuhannya adalah Allah, mari angkat tangannya," seru Aa Chan mengawali ceramah. Ajakan itu diulang dengan mengingatkan bahwa Rasul Allah adalah Nabi Muhammad SAW dan kitab sucinya Al Qur'an.

"Mari angkat tangan! Kita mau cek, ada aliran sesat nggak di sini?" celetuk sang da'i menyulut gerrr.. tawa warga. Aa Chan menuturkan, munculnya aliran menyimpang akhir-akhir ini sebagai bukti sebagian umat muslim tidak lagi mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. "Contohnya, menyunatkan anak kalau ikut cara rasul kan hari Jumat dan di masjid. Tapi, sekarang orang lebih memilih hari Minggu, sudah gitu digelar di hotel berbintang. Padahal, masjid itu sendiri sudah berbintang bulan," terang Chandra. Dai asal Tanjunguma yang tak lama lagi berangkat menunaikan haji itu acapkali berucap, "Kembali ke Allah!" pada setiap penggal nasehatnya, meniru celoteh pelawak Tukul Arwana yang top dengan "Kembali ke laptop"nya.

Andai Insentif RT Disamakan Gaji Buruh PT

SEJATINYA, duta-duta perjuangan sebenarnya adalah para ketua RT (rukun tetangga). Karena, merekalah pahlawan tanpa tanda jasa yang ikut serta memajukan bangsa pada ujung tombak pemerintahan, sudah sepatutnya diberikan penghargaan setimpal. Demikian dilontarkan H. Deska Amilin, Ketua RT. 05 RW. 05 Kelurahan Bengkong Indah, Kecamatan Bengkong, kemarin malam.

"Kami titip kepada bapak Mawardi Harni, tolong insentif para Ketua RT dan RW kalau bisa disamakan dengan mereka yang di Mukakuning," cetusnya disela sambutan acara Malam Silaturahmi Keluarga Besar Kelurahan Bengkong Indah yang melibatkan masyarakat setempat itu. Sayangnya, dari 10 orang anggota legislatif asal daerah pemilihan (dapil) Bengkong itu, cuma Mawardi Harni, anggota DPRD Kota Batam yang datang memenuhi undangan panitia.

Kendati begitu, perhelatan akbar yang pertama kali diadakan bertempat di lapangan Balai Pertemuan, RW. IV Bengkong Baru itu, cukup menyedot antusias warga. "Kita mohon, ke depannya acara seperti ini menjadi agenda tahunan. Kegiatan ini bisa menjadi barometer sekaligus croscek," jelas Deska menanggapi pertanyaan saya. Selaku ketua panitia, pihaknya sangat mengharapkan dukungan pemerintah melalui wakil rakyat.

Pada kesempatan itu, Mawardi Harni menyambut gagasan yang disampaikan Deska. "Ini akan menjadi bahan masukan untuk kita bahas di dewan," tanggap. Tak hanya Deska yang menggantungkan nasib "kantong" para ketua RT dan RW, kepada politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Batam itu, Ustadz Chandra alias Aa Chan yang sebagian orang menjulukinya si ustadz gaul, juga menitipkan masa depan ibu-ibu kompang dan majelis taklim se-antero Batam.

"Kalau bicara soal insentif, tolong perhatikan juga para pengurus masjid, ibu-ibu kompang dan majelis taklim. Coba lihat, untuk bisa memiliki seragam saja mereka sampai rela kreditan, mungkin ongkos jahitnya saja masih ngutang," imbuh Aa Chan ketika didaulat ceramah. Sebelum ditutup dengan pembagian bingkisan doorprize, kegiatan sempat diwarnai dengan tangis, saat sang dai membawa warga larut dalam dzikir dan istiqfar.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

18 November 2007

Byar Pet

GARA-GARA mati listrik bergiliran enam jam dua hari kemarin, Den Mas Brewok uring-uringan. Bercampur mrengut kayak jeruk purut ketimpa dump truck. Astaganaga Bonar jadi lima! Bambang srut jendela wangwa, kenapa? Sodara-sodara, rupana doi merajuk niye. Lantaran ada pemadaman setrum ntu, janjian mau shotingan adegan hot binti vulgar ama Muntil, terpaksa urung bila perlu batal demi hukum. Istilah Tanjungumana, pro justicia. Kalau kata Kang Parto, gagal maning iya kaya kuwe?!

Kapoklah bro, ogah nyimak pengumuman PLN sih. Jadina, tuh semprul kaget bukan kepalang ketika AC, mesin cuci, komputer, dan seabrek perabotan elektronikna pada mampet. Total jendral kerugiana dalam enam jam ntu, ditaksir mencapai jutaan. Artina benjutna rata man!. Asal tahu aja ya, Sabtu lalu suplai gas untuk PLTG Batam berkurang karna ada perbaikan hot work di lokasi sumur gas Grissik, Sumatera Selatan, yang menimbulkan zero flow. Nah, buat nguger-uger ntu alat, kata sumber bonavit plus terpercaya bisa makan waktu 20 jam, mulai pukul 05.00 sampai 24.00 WIB. Efekna, timbul penurunan pasokan gas bumi sekitar 88 persen dari pasokan normal.

Wajar kirana, jika depot setrum Batam dalam dua hari ntu mengalami beban puncak diperkirakan mencapai 180 dan 160 megawatt. Permasalahanna sekarang, tuh sompret bebret bleketapet nyang hobi jajan awewe ngaku kena imbasna abis-abisan. Bahkan, beban puncak nyang dipikulna melebihi penderitaan juragan listrik. Patutlah diana sewot gitu loh! Ooh my God, baru dua hari listrikna asyik dipedot, nafsong birahi doi pun mlempem byar pet. Wah, doi mesti konsultasi ke Bang Jos nih, bos Bombay Punjabi nyang khusus nangani problem laki-laki ntu.

Sungguh terlalu! caapekh dehh.. Brewok kelabakan petak-petok mirip ayam babon mau nelor, kelojotan kayak belut dislentik kupingna. Mau menjerit, tapi malu ama nominator RT Favorit. Udah gitong, mau lapor pulisi, tapi minder ama Pak Tarman (maksudna Brigadir Jenderal Sutarman, Kapolda Kepri). Sebab, diam-diam sambil komat-kamit ngunyah permen karet, doi nimbrung nguping wawancara para pewarta usai acara Senkom Mitra Polri di Aula Politeknik Batamkota, Sabtu siang kemarin. Untung gak diusir ama Pak Kumis kamu Wok.

Kalau si brengos perut buncit ntu kagak salah denger, Pak Tarman bilang gini. "Ada yang mau lapor, terpaksa ditunda harus pulang dulu atau nunggu enam jam," jelasna tatkala ditodong pertanyaan wartawan. Tuh kan, Pak Pulisi aja mengakui, bahwa pemadaman listrik bisa mengurangi pelayananna terhadap masyarakat. Apalagi Brewok, nyang secara otomatis jadwal servisna pun turun drastis. Kagak bisa lagi main romantis, rokok makan gratis dari Muntil. Ssst, hati-hati Saudara, mulutna Brewok mulai umet-umet persis pantat bebek nyang lagi baris ngantre makan siang di kandang. Awas! minggir ntar kena tendangan samping, Gol... put.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

16 November 2007

Video Hot!

NGUBER mau ngedownload video hot sampai-sampai Kang Brewok rela tukar hapena, maklum nyang kemarin gagal total terus asal mau transfer rekaman lagu atau smartmovie via bluetooth maupun infrared. Sodara sodara kagak perlu ngiri ya, sekarang tuh sompret bebret udah nenteng hape baru lagi, lebih kinclong dari nyang kemarin dipamerina.

Ssst, diana bilang tuh hape hasil dari tukar tambah. Katana, kekurangan nambahi uang dibantu sama Muntil. Hmm, memang duasar brengos perut buncit cuat cuit! duit buat setoran arisan bulanan punya cewekna ntu tega dipelorotina, cuma disisain koin gope doank. Tapi saudara, kini Brewok tampilanna sedikit lebih trendy dari biasana, rupana doi lagi belajar gimana carana berkomunikasi lewat 3G. Ohh, pantaslah tuh sompret mulai hobi berkacamata reben.

Gawat!, gara-gara Den Mas Brewok membaca koran kemarin, soal film porno asli rakitan Tanjungpinang, wuih bukan main sibukna doi. Asal tahu sumedang aja ya, itu rekaman belum dikoreksi ama Roy Suryo, si pakar telematika nasional, eeh malah keburu diana nyang meneliti keabsahanna. Macem kutu loncat tak hilang akal, tuh sompret nyang doyan jajan awewe nantang debat konsultasi ama rekan-rekanna, katana sekedar sharing sambil tes argumen.

"Wok, emangna tuh video asli direkam di Tanjungpinang?" tanya Pak Pulisi Lalu-Lintas yang jadi sobat karibna. "Asli bang, telat kalau belum lihat," jawabna nyeplos. Sekedar tahu, setelah doi kena musibah nabrak anjing hingga kepalana dibuntel perban, diana ngaku nyesal telah mengkibuli pulisi ntu. Disangka doi, kecelakaan ntu gara-gara disumpah serapah ama tuh petugas. Pantaslah, grafik tingkat kengelanturanna makin meroket ngalah-ngalahi Tukul Arwana.

Nah, hikmah dari insiden ntu, sekarang Den Mas Brewok semakin disayang ama gacoanna, Muntil. Jalinan asmara mereka jadi lengket kaya permen karet, Muntil malah khawatir kalau tuh sompret sampai diam-diam poligami sebelum pesta pelaminanna benar-benar terbukti. Maklumlah saudara, Brewok nyang ngaku tahan banting ntu, belum mau lepas dari kebiasaanna, kumpul kebo. Terang aja, doi suka pindah-pindah indekos ngelakan razia Satpol-PP.

Kembali ke masalah rujukan Brewok ama Pak Pulisi, sangkin ingin dikenal baik and solider, tuh sompret jual murah rekaman video di hapena. Pinter juga tuh kampret, ngambil hati Pak Pulisi. pake nawarin barang baru segala. Malam-malam Brewok mampir nemui Pak Pulisi nyang lagi piket bareng teman-temanna di markas. "Wok, udah jangan cuma bacot! Mana video hot Tanjungpinangnya?" tagih Pak Pulisi nyang ikut penasaran kepingin nglihat tuh barang.

Singkat cerita, bagaikan ki dalang dalam sekejap Brewok sudah bikin para Pak Pulisi ntu berkerumun nonton video syur ntu. "Sudah, sudah. Kalau kurang puas sini biar kudownloadkan, ada bluetoothnya nggak?" Brewok lekas angkat bicara memotong keasyikan pulisi tadi. "Sombong kau wok, mentang-mentang hapemu baru," sergah pulisi lainna yang geram baru lihat sebagian adegan. "Tenang, tenang. So pasti kebagian semua. Namanya juga video hot!" cetusna.

Sodara, sepulangna dari kantor pulisi tadi, malam itu juga tuh sompret bleketapet langsung ngeloyor ngapelin Muntil. Diana kagak pedulikan waktu, padahal jarum jam di Simpang Jam sudah pas bertengger menunjuk angka 12, artina sudah tengah malam. Namanya Brewok, mana kenal dengan aturan main. Nggak ada istilah jam malam atau jam siang, dimana hasrat itu muncul, ya mesti dilaksanakan. Imanna kuat tapi kalau imronna berontak, nggak naaahan... tak ku ku la yauuw!

Usai memacu sepeda montor kombetna, akhirna sampai juga Brewok di luar jendela kamar Muntil. Sepuluh meter sebelumna, doi nyang kebelet napsong ntu tak lupa mematikan kunci kontak, jeklek, lalu merayap mendekati kamar cewekna sambil tertatih-tatih mendorong montor bututna. Hhm, duasarr mbuandele pol! tuh sompret bisik-bisik ngajak Muntil keluar. Bilangna sih mau diajak shooting bareng, buat kenang-kenangan dan selebihna so pasti untuk koleksi pribadi. Akuna.

Muntil nolak tender murahan gak lewat iklan lelang proyek ala POSMETRO gituan, dia ngomong gini. "Nggak mau lah, kalo rekam cuma pake hape," tuturna. Brewok mengkerut, jidat aslina jadi nampak cunong blenong. "Ayolah say, kebelet nih," rengek tuh semprul sambil ngancam mau teriak-teriak. Muntil lalu berusaha menenangkanna, "Bukan gitu mas, adik takut nanti rekaman kita jadi beredar luas ke pasaran. Adik malu, ntar tahi lalat ama tohku nampak deh," elakna halus merayu-rayu sang kekasihna.

Den Mas Brewok jadi makin ngebet. "Tak apalah dik, wong mas aja yang puserna bodong santai kok. Kan jelek-jelek tapi bayar pajak," timpal tuh sompret. Nah, pas lagi saling merayu mau bikin video hot lokal ntu, rupana tetangga rumah sebelah dari tadi nguping percakapan dua insan ntu. "Hayoo, kalian ketahuan. Lagi janjian jorok yah?" sergap para tetangga nyang sebagian udah janda dan duda. Muntil malu pura-pura ngigau, si Brewok berlagak lagi pipis pula.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

15 November 2007

Bluetooth

GOMBAL amoh yang doyan jajan awewe di luaran nih, kemarin pamer hape kinclong bo. Diana cakap katana ntu barang baru buka kotak dibeli dari Lucky Plaza, Nagoya. Biar gak kalah tren sih, celotehna. Saudara, asal tahu aja ya, gara-gara Brewok malitem pegang alat komunikasi canggih bentukna mirip kotak bedak ntu, sekarang tangan sompret bleketapet makin terampil kagak mau diam. Bentar-bentar pencat-pencet kiped, bentar-bentar tu lat tu lit suara hapena bunyi melulu, wuuh sebel banget deh bro. Masih mendingan ngedengerin Bang Hasan Aspahani baca satu syair dari sejuta puisina, daripada nyimak tuh gambreng yang gemar ngerjain Pak Pulisi. Abisna ngganggu konsentrasi menjelang Pilwako Tanjungpinang, please donk ahh. Rojerrr apa dikopi dimonitor...

Mbok ya sadar, nyebut but but... Den mas Brewok, apa jidatna gak pernah di medical cek-up? udah hangat apa belon. Daripada keburu kena semprot ama ludah nyang bau jengkol medongkol, lebih mulia istritahatkan dulu ntu hape ke dalam sarungna, jeklek kruk.. kunci pake gembok stainless, glek! Duuh, dasar mbuandele por! doi ngaco lagi men, sreettt.. hapena kembali dikokang dari buntelan kotak hitam di pinggang, miriplah tentara Yonif 134 Tuah Sakti mau latihan nembak di Barelang sono. Muga-muga lah baterena buruan ngedrop, abisna sumpek.

O'o diana ketahuan utak-utik mau transfer lagu MP3 ama smartmovie rupana, gaya pake bluetooth pula tuh. Wok sing ati-ati, ojo nganti nyasar lewat lutut, bisa bebel mampet pet. Gagal maning lah... iya kaya kuwe? Demi gosip ombrengan yang saban hari ditebarkan doi, berbagai cara ditempuh. Dari pake jasa Pak Pos, SMS, sampai main bluetooth-bluetoothan segala. Halah gitu pun gak rampung-rampung juga, gitu aja kok repot! mungkin wis dasare ndhablek kecublek-cublek suwing. Maklum, masa mudana Brewok pernah diabiskan separo perjalanan tatkala drop-out dari SMEA swasta, diana sempat berkarier di blantika dunia anak punk.

Hii hi, kapok sambal blacan campur ketela rambat lah. Bolak-balik nyoba kirim lagu ama video, tapi gagal maning dan gagal maning selawase! Hmm, mukana makin berkerut kerut macem jeruk purut ketimpa lori. Doi kelojotan lantaran hapena kagak bisa diproses bluetooth, nah lo rasain! Brewok pikir semua hape baru bisa terima menu bluetooth kali, kuaciiian deh lutung kasarung. Catet pake pulpen mblobor yah, gara-gara memperhatiken tuh brengos perut buncit cuat cuiit, juragan tulisna sampe batal nggebuk kucing garong sing liwat. Edan tenan!

Jadi, aplikasi hapena mulai rada luntur tur. Ssst.. sepertina diana udah kelewat capek, uger-uger bluetooth tapi kagak bisa-bisa. Mulutna umet-umet komat-kamit, amit-amit kayak pantat ayam mau bertelor. Huss! aja dibayangna. Brewok nyoba milih jalur pintas pake infrared, ya gagal maning, gara-gara diana melacak lobang infrared kagak ketemu. Jempolak jempalik hapena dijungkir balik sampai oklek, kagak nemui juga tuh lobang. Malah lobang hidungna nyang kelilipan walang kekek. Brah bubrah, batal ngisi lagu dangdute Slank duet Nirina Zubir sing judule Pandangan Pertama ciptaane A. Rafiq itu loh. Awas lo! sembarang download kesedot UU Hak Cipta.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

14 November 2007

Telat Tobat

CEKOT-cekot campur nyut-nyutan sampai nyeri urat, sambil mengusap keringat Den Mas Brewok terus menggurat kening cunongna. Sodara mesti buka lebar-lebar pintu maklum, pasalna, doi kita kali ini ngaku lagi pusing tujuh keliling memikirkan masa depan bangsa dengan carut marutna, yah problema nasional seperti ini memang tak bisa dikesampingkan begitu saja, karena di dalamna menyangkut juga sejengkal asa seberkas harapan yang dimimpikan oleh kita semua, tak terkecuali diana yang terlanjur lahir ke dunia. "Bukan salah bunda mengandung, tanyakan kenapa bapak tak pakai sarung," ketus tuh sompret. Nah loo!

Fenomena bencana alam bertubi-tubi melanda jagat Indonesia, biar pun Brewok somelekethe kadang kelewat brengsek esek-esek blak ketuplak-tuplak, tapi diana juga manusia biasa yang punya hati dan perasaan iba. Apalagi soal cinta, wuuih, malahan doi sekarang lagi menggandrungi tembang tergressna Kang Ahmad Dhani, judulna Munajad Cinta. Ayo, sebentar kita lantunkan bareng-bareng, mumpung gratisan men! "...Hati ini selalu sepi, tak ada yang menghiasi, seperti cinta ini, yang slalu pupus.. Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati dan mencintai aku, seadanya..." Gak perlu diulang-ulang, ntar kena UU Hak Cipta. Buka mata buka telinga aja, mulut bau tahu!

Tuh sompret bebret rupana gampang cengeng, walau tak sulit bagi diana berubah beringas macam Anaconda ala Thailand. Penampilana yang alakadarna, membuat doi mengidamkan juwita si jantung hati yang mau menerima kekurangana, sesuai syair dendangan pentolan Dewa19 ntu kan? Udahlah bro, capcai nih kalo bahas ajian kasmarana tuh Brewok, soalna udah rahasia publik kalau urusan asmara diana jempolan abis! alias rampung khataman. Dari cuap-cuap ama tuh brengos perut buncit, ketahuan diana lagi sibuk nyusun skripsi tobat. Haa..!?

Doi rupana memvonis diri telah terjebak dalam aliran sesat, bedana diana pemain tunggal nggak ngekor ajaran siapa pun, termasuk Ahmad Moshadeq si Al Masih Al Mawud ntu. Kok bisa? Iya layau, wong Brewok tak pernah lakoni ibadah, suruh baca kitab suci malah plirak-plirik tolah-toleh kaya sayur lodeh minta dipentung siwur. Jadi, Brewok apa julukanna? Gampang pang, panggil aja Al Habis Al Sembrawud. Eeh, saudara tahu nggak? diana sekarang banyak murung, menyesal telat numpang tobat massal ama nabi palsu dari Gunungbunder, Bogor ntu.

Biar pun gitu, Brewok masih heran campur uring-uringan. Nih komentarna yang diwanti-wanti off the record, gini. "Cuma Allah yang tau siape yang sesat, kenape pade nyolong hak Allah sih? Kapan ade wahyu yang bilang MUI wakil Allah? Mane wahyu yang bilang boleh nuduh seseorang sesat? ame sape tuh wahyu dititipinnye?" demikian tuh sompret bebret berkate nyulik pake dialek Betawi, ssst.. paling njiplak dari blog siapa tuh pernyataan?. Biarin dach, gitu aja kok repot.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

13 November 2007

KWTE Mak Nyuus...!

DEN mas Brewok rupana tak mau ketinggalan informasi, diana ogah dibilang gaptek alias gagap teknologi. Soalna, doi biarpun sumpret bebret kalo lagi menggandeng cewek mentel, sekelas Muntil. Tapi, Brewok tetap tak mau melupakan pengalaman jadi orang kuliahan, mahasiswa sospol gitu lho. Kenapa coba? so pasti donk, biarpun aktivitas kampus doi putus, tak sampai diwisuda, tapi kalau angkat bicara soal kritik sosial, diana kagak ketinggalan dengan para pakar dan pengamat yang jidatna sampai botak. Nerocos bla bla bla...

Heboh soal kontroversi dibukana kawasan wisata terpadu ekslusive (KWTE) di Lagoi, Kabupaten Bintan, akhirna sampai juga ke telinga Brewok. "Walah, gitu aja kok repot," tanggapna ala dialek Gus Dur, mantan Presiden RI itu. Pendapat doi, KWTE itu perlu demi mempercepat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di daerah, seperti di Kepulauan Riau yang seumur jagung lebih dikit ini. "Sepanjang itu dilaksanakan dengan sebaik-baikna, tanpa merugikan masyarakat kecil dan bisa diterima semua pihak," komentarna mirip tokoh politikus.

KWTE yang konon bakal menyedot investasi asing 950 juta dolar AS itu, ada yang setuju disulap menjadi lokasi ketangkasan, adapula yang menolak mentah-mentah. Kata Brewok, biarkan saja isu itu berkembang, membuktikan orang-orang pinter semua, pandai berpendapat di luar rapat. Apapun yang masih hangat diperdebatkan, akan tetapi yang nyata dan jelas, plus tegas adalah pernyataan Pak Tarman, sapaan kental Brigadir Jenderal Sutarman, Kapolda Kepri. "Lho, beliau sudah jelaskan lewat koran. Selagi aturannya tidak diubah, maka Polda akan konsisten melarangnya," kutip Brewok.

Pikir-pikir memang bener juga tuh, selagi polisi punya senjata ampuh Pasal 303 KUHP, tak ada alasan lain bagi siapapun yang menggelar permainan berbau judi, ya mesti diberangus. Nah, daripada pusing ngurusin tuh tema yang kenceng diperjuangkan segelintir elit di Bumi Segantang Lada itu, rupana Brewok tak mau kalah gosip. Eiit, diana langsung pamer ide versi kepanjangan KWTE, Kapan Waktu Tetap Enjoy...

Weladalah, akal Brewok rupana masih sehat wal afiat. Tapi sodara-sodara harap maklum saja, diana kemarin habis jatuh dari motor kombetna saat kecelakaan tunggal nabrak anjing yang lagi nyebrang jalan. Kepalana mencium aspal, yah bisa jadi engsel otakna tergeser dikit. Rasain dah tuh sompret, mungkin kena sumpah sama Pak Pulisi yang kemarin dikibulina ketika razia, e'eh ujung-ujungna doi pun ketemu apes. Waktu batok kepalana dibuntel perban, diana merintih sakit tapi masih ngoceh, uuh ah mak nyuus...(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

12 November 2007

Modal Nekad

GAMBRENG breng..! gara-gara juragan tulisna lagi menghirup udara bebas -ssst.. bukan karena lepas dari bui lho- akhirna sekarang juru keluyuran malam yang kebagian tugas menyambung lidah aspirasi rakyat. Sodara, tak perlu kaget maupun risau sampai tak nyenyak bobok, santai sajalah, bukankah Belanda masih jauh Jenderal...

Nah, akhir-akhir ini pulisi kan mulai rajin razia di jalanan. Rupana tuh Brewok tak kapok-kapok, walaupun sepeda motor kombetna pernah dikandangin di kantor pulisi, nginep-nep macem telor bebek lagi diasinin, tapi diana masih suka nekad ngeloyor tak pakai helm plus kantongi surat menyurat. Soalna, diana lebih gemar nyimpen batu jimat di dompetna.

Malam minggu kemarin, tuh doi mboncengin cewek kenalan barunya usai nyanggong di Diskotek Planet. Niat Brewok ingin mengantarkan tuh cewek pulang ke indekosna di Perumahan Legenda Malaka, keburu kena cegat pak pulisi yang lagi gelar operasi gabungan di Penuin.

Seperti biasa, gelagatna tenang-tenang wae. "Selamat malam, bisa lihat surat-suratnya?" sapa petugas seraya mengangkat tangan tanda hormat. Brewok kontan menjawab, "Malam, ada yang bisa saya bantu." Tuh kan, belagak tak berdosa. "Kami sedang melaksanakan razia, mohon tunjukkan dokumen anda?" lanjut pak pulisi. Apa komentar Brewok selanjutnya, ooh rupana doi langsung keluarkan jurus gombal amohna. "Maaf, bapak sudah merugikan waktu saya. Sudahlah, mana surat Tilang yang perlu saya teken?" nantang nich..

Eeit, pak pulisi jadi bingung. Maklum, diana sempat grogi lihat tampang Brewok yang sok orang gede itu. "Kalau begitu, mari bapak ikut saya ke meja bagian Tilang," ajak pulisi. Brewok nolak mentah-mentah, "Waduh, bapak ini gimana. Kalau saya turun dari motor, terus ikut ke sana, berapa banyak lagi waktu yang terbuang sia-sia. Sudah sudah, mana surat Tilangnya. Kan Tindakan Langsung, ya langsung dong!" lagaknya makin hebat.

Melihat kang mas Brewok bersitegang beradu argumen ama pak pulisi, cewekna merajuk buru-buru stop ojek lalu ngacir. "Nah nah, tuh pak. Gimana nih. Bapak mesti tanggung kerugian saya, sudah habis duit traktir tuh cewek, eeh sekarang kabur dia. Saya rugi waktu, rugi gaji sebulan. Hueek..weekkk," wah gawat saudara, si Brewok malah mewek merengek ama pak pulisina.

Tak mau lama jadi perhatian warga, akhirna pak pulisi mengalah suruh tuh Brewok pergi. "Ya sudah, kalau mau nangis di rumah saja sana," usir petugas dengan brengos hitam lebat itu. Weladalah, rupana itu cuma dagelan doi supaya pak pulisi batal periksa surat-suratna. Begitu sudah jauh dari lokasi razia, Brewok malah nyengir cekikikan bercampur girang. Wahahaa...(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

01 September 2007

Goyangan Gempa

INSPEKTUR Polisi tingkat II (Ipda) Miharni Hanafi, polisi wanita (Polwan) kelahiran Makasar 20 September 1984 yang kini mengemban jabatan sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (Ka.SPK) Poltabes Barelang, punya pengalaman menarik semasa mengikuti beberapa kali latihan kerja (Latja) sebelum menuntaskan pendidikannya pada Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Jawa Tengah. Yah, alumni Akpol angkatan 38 Setia tahun 2006 ini, merupakan satu-satunya wanita dari 10 orang Taruna yang berasal dari daerahnya di Pinrang, Makasar.

Gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006 silam, menyisakan seberkas kenangan tersendiri dalam lubuk hati sanubari dara yang mengaku doyan makan bakso dan memfavoritkan warna biru itu. Musibah alam itu terjadi, Latsitardanus XXVII kelompoknya pun terpaksa batal berangkat ke Padang dan akhirnya beralih tujuan ke Yogya demi membantu korban bencana alam. Timnya tidak sendiri dalam menyingkirkan puing-puing sisa bangunan roboh, melainkan bahu-membahu bareng TNI (Tentara Nasional Indonesia).

"Dahsyat, rumah-rumah hancur. Pas kami sedang kerja bakti, ada getaran kuat, kami sempat lari. Setelah tenang, kegiatan dilanjutkan," beber pemilik zodiak Virgo yang hobi olah raga dan jalan-jalan ke mall itu kepada saya, Jumat (31/8) malam. Menjadi polisi, itu sudah cita-citanya sedari kecil. Tapi, putri ke dua dari tiga orang anak pasangan Ajun Inspektur Polisi tingkat II (Aipda) Drs. H. Hanafi dan Hj. Mirawati ini, memang tumbuh dari keluarga besar Bhayangkari.

Adik bungsunya, Hamri, kini juga mengikuti jejaknya dan sekarang telah menyandang pangkat Brigadir Polisi tingkat II (Bripda) bertugas di Poso. Miharni, adalah satu dari 28 orang Taruni yang tergabung dalam 286 orang Taruna seangkatannya. Sebelum akhirnya sukses digembleng menjadi Polwan, wanita ramah itu lebih dulu mengenyam bangku belajar di SMA Taruna Nusantara, Magelang. "Motivasinya masuk Akpol, ingin mengejar karier serta mengabdi pada negeri," akunya.

Drum Corps merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang paling digemarinya sewaktu aktif dalam lingkungan Akpol. Nah, buat remaja yang bercita-cita ingin jadi polisi, Miharni yang baru bertugas di Batam kurang lebih sembilan bulan, menitipkan pesan. "Persiapkan dari sekarang, kesehatan, akademik dan lebih tingkatkan belajar," katanya seraya mengaku terkesan dengan Kota Batam. "Batam? disinilah tempatnya, semua ada," imbuhnya.

Menjelang bulan suci ramadan tahun ini, tak lupa gadis yang biasa disapa Mi atau Ni itu menyampaikan himbauan kepada masyarakat Batam. "Marilah di bulan puasa nanti lebih meningkatkan iman dan taqwa kita. Ibadah kita perbanyak lagi di bulan yang penuh ampunan itu," ungkap Miharni disela kesibukan kerja di Mapoltabes Barelang, Jalan Jenderal Sudirman, Baloi.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...

30 Agustus 2007

Bukan Mimpi Biasa

TAMPAK dalam foto, saya diapit Habibie (aslinya Habudi) dan Gus Pur (aslinya Drs. Alam Handoyo), dua tokoh dalam Republik Mimpi tayangan MetroTV. Gambar dijepret kamera digital oleh Citra Pandiangan (wartawati BatamNews), Ahad malam tanggal 18 Agustus 2007 di Executive Room Restoran Resto Kediri, Batam Kota, foto telah diolah ulang oleh Mus Mulyadi, layout POSMETRO dengan menambahkan background.

Memang, Bukan Mimpi Biasa...

Sungguh mengagetkan saya, dua orang mantan presiden tiba-tiba hadir di Kota Batam tanpa pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) maupun aparat lainnya. Eiit, jangan heran dulu. Sebab yang datang kali ini, bukanlah mantan petinggi di Republik Indonesia tetapi di Republik Mimpi, sebuah tayangan realityshow yang kerap tayang di layar stasiun televisi swasta nasional, MetroTV.









Gus Dur dan Habibie palsu bertamu memenuhi undangan panitia penggagas sebuah komunitas baru, bertempat di Executive Room Restoran Resto Kediri, Batamkota, Ahad (12/8) malam. Nyaris tak ada beda, polah dan logat Habibie yang memiliki nama asli Habudi, juga Gus Pur yang sebenarnya adalah Drs. Alam Handoyo itu.

"Orang kita itu males, itulah yang menjadi penghambat sukses. Takut mencoba hal yang baru, padahal seperti apa yang kita lakukan di Republik Mimpi, ada satu hal yang menunjukkan bahwa masyarakat kita itu pinter. Kata kuncinya adalah, berpikir besar tapi mulainya dari kecil, ya semisal dari tim work semacam ini," ujar Gus Pur.

Pria dengan latarbelakang PNS itu, memberi wejangan (nasehat, red) agar setiap orang menghindari rasa takut. "Orang takut setan itu masih wajar, tapi kita jangan takut akan hal yang kita sendiri tidak tahu. Kalau memang nggak tahu, kita bimbing sampai tahu. Tinggal, apakah mau atau tidak?" imbuhnya dengan gaya khas Gus Dur.

Lalu, Habibie menambahkan. "Kedepan perlu semua pihak menciptakan lapangan pekerjaan, ini memang mimpi yang harus kita wujudkan," imbuhnya dengan mata sesekali mendelik, berbeda dengan Gus Pur yang jemari tangan kanannya suka kletuk-kletuk meja dan duduk bersandar miring.

Dari temu ramah itu, tak lama lagi pihak MMBC (Master Mainset Billionare Community) dan PELC (Proactive Edutainment and Learning Centre) yang dipromotori oleh Hary Raharjo dan Dr. Djohan Gazali, akan mengadakan seminar, workshop dan konsultasi. "Kita ingin orang punya keberanian dalam pola pikir," tegas Djohan.

Setiap preview acara itu bakal dihadiri para tokoh di Republik Mimpi. "Kita tawarkan solusi dengan mencarikan teman, lewat curhat yang ditulis di kertas mereka akan saling kontak. Ketakutan pada dasarnya adalah kegagalan," kata Djohan yang juga abang kandung dari Efendi Gazali, penasehat kepresidenan di Republik Mimpi.





OB Saya Pegang Lagi





PADA kesempatan lain, Habibie palsu mengatakan. "Kita harus konsen lagi. Otorita Batam (OB) mau dibubarkan? ini harus menjadi pertimbangan. Inilah kalau saya nggak pegang lagi," ujarnya menjawab pertanyaan teman-teman di kantor saya, Senin (20/8) sore. "Kalau perlu, OB saya pegang lagi," celetuknya.

Pria yang kental disapa Habudi, gabungan dari nama Habibie dan nama lengkapnya sendiri, Budi Setiawan itu, bertandang ke kantor saya di Gedung Graha Pena lantai 3 Batamkota didampingi antara lain oleh Dr. Djohan Gazali (abang kandung Effendi Gazali) dan General Manager PELC Consultant, Nunung Nurhayati.

Sama halnya dengan Habibie, mantan Presiden Republik Indonesia. Habudi yang mantan Presiden Republik Mimpi itu juga memiliki komitmen dan pemikiran besar. "Misi saya supaya ini jadi Hi-Tech," kelakarnya dengan bola mata sesekali berputar binal disertai dengan gerakkan tangan.

Ditanya soal Batam, Habudi yang mengaku mantan Ketua OB tapi belum pernah ke Barelang itu langsung respek. "Oh, jalan-jalan saya lihat sudah bersih," ketusnya. Dari polah Habibie, diakui lelaki yang pernah dicap sebagai mahasiswa serba bisa itu, yang paling sulit ditiru adalah kepinterannya. "Sama, cuma saya lebih gemuk. Dulu setiap tujuhbelasan saya main drama, juga sering ikut teater. Nah, waktu jumpa pak Habibie, dia bilang kumisnya lebih bagus saya. Kan beliau lagi coba-coba pakai kumis. lalu, ketika saya sodorkan surat, dia bilang gini. Ini orang kalau main film dikira saya, dia langsung tanda tangan," imbuhnya.
Disinggung apakah judi di Batam bakal dibuka lagi, "Habibie" menyambut diplomatis. "Ini perlu kita bicarakan dulu, terutama dari segi micro econominya," ujarnya dengan dialek khas berbau Jerman ala Prof. DR. Ing. BJ. Habibie. Habudi dan rombongan kemudian pamit hendak meneruskan lawatannya.

Perlu diketahui, penampilan tokoh Republik Mimpi di Kepri, merupakan dukungan terhadap seminar yang ditaja PELC bekerjasama dengan Master Main-Set Bilionaire Community (MMBC), penggagas sebuah komunitas baru. Menurut Djohan, Batam adalah kota ke-2 yang menjadi sasaran pengembangan program itu setelah Bandung.

"BBB, Bandung Batam lalu Bali," terangnya. Lebih lanjut ditambahkan Nunung, seminar bertajuk Rahasia Multi Sukses seterusnya bakal diadakan, Sabtu (25/8) di Hotel Novotel menampilkan Jarwo Kuwat (JK), pekan berikutnya di Pluto 1 Room, Hotel Planet Holiday dan puncaknya, Sabtu (8/9) di Resto Kediri, Batamkota.

"Sebelum seminar puncak, setiap preview kita adakan secara gratis. Dimeriahkan dengan artis-artis mantan Presiden Republik Mimpi, antara lain Habudi (Habibie), Gus Pur (Gus Dur), Megakarti (Megawati), Si Butet Yogya (SBY) dan Suharta (Suharto) dengan inspiratornya, Effendi Gazali," jelas Nunung.

Nggak Bisa Sembarang Ngomong

MERDEKA..!! pekik semangat itu terlontar dari mulut Megakarti dibarengi dengan kepalan tangan kanan, saat mengawali dan menutup kata sambutan seminar di Ramin Room lantai 1 Hotel Novotel, Sabtu (25/8) sore. Megakarti, paduan nama Megawati dan Sukarti, nama asli wanita berpostur segar dengan tahi lalat hitam di bawah bibir itu.








Megakarti ngetren setelah kerap tampil pada acara Republik Mimpi yang ditampilkan MetroTV itu. Bila dalam tulisan saya sebelumnya mengupas sisi lain dari dua orang lelaki mantan Presiden di Republik Mimpi, Gus Pur dan Habudi. Nah, kali ini giliran pengakuan Megakarti, seorang tokoh wanita bekas orang nomor satu di negeri yang sama.




Bagaimana sih perasaan Sukarti (57 tahun) memerankan putri Bung Karno itu? "Bagi saya biasa saja, cuma jadi beban nggak bisa sembarangan ngomong," kata Sukarti saat dihampiri saya, petang itu. Ibu rumah tangga yang telah dikaruniai 3 orang anak sekaligus nenek dari 7 orang cucu itu, mengaku asli kelahiran Ngawi, Jawa Timur. "Yang pertama kali bilang kalau saya mirip Bu Mega, ya cucu saya yang waktu itu berumur 4 tahun," ujarnya.

Megakarti yang petang itu mengenakan stelan baju merah, identik dengan warna partainya Megawati Soekarno Putri, mengaku pernah suatu kali dipanggil langsung untuk menghadap bekas First Lady di Republik Indonesia itu. "Saya akhirnya dapat restu, mulai saat itu saya melakoni peran jadi Bu Megawati," ulas Sukarti didampingi suaminya, Sunar Sastradimejo (65) pensiunan pegawai Kantor Administrator Pelabuhan, Tanjungpriok.

Disinggung tentang Kepri, Batam, termasuk soal terbengkalainya proyek gedung Badan Intelijen Negara (BIN) di Batubesar yang pernah dikunjungi Megawati, kali ini Megakarti enggan mengomentarinya. "Wah saya cuma palsunya, bohong-bohongan, mimpi," elaknya tersenyum simpul. "Jangan kaget, Megakarti itu banyak. Makanya pernah saya nggak bisa datang, diaplus sama yang lain. Bedanya dengan Megakarti lain, tahi lalat saya ini asli," imbuhnya.

Selain kesibukan kegiatan Republik Mimpi, Sukarti mengaku pernah membintangi produk iklan dan sinetron, salah satunya berjudul Hati yang Ungu. "Waktu akting Republik Mimpi dengan tema Pilkada DKI, saya mesti hati-hati dan harus independen. Nggak pro sebelah pihak," lanjut Megakarti. "Ini pertama kalinya saya ke Batam, kesan dan pesannya ya ingin tahu, bagaimana keadaannya," tutupnya mengakhiri obrolan.(uka suara dinata)

Baca Selengkapnya...